Hari
Pertama Sehari Bersama
‘’ Hemat beeb..! ‘’
By:
Olla, 250511
Beberapa
hari ini, “si pacar” selalu ngajakin gue untuk bisa meluangkan sedikit waktu
dan kita bisa menikmatinya bersama. Karna setelah 9 bulan lebih jadian, kita
tidak pernah jalan-jalan bersama kecuali makan malam bersama disekitar kampus,
nonton film-film hasil download-an
dikos, atau paling jauh yah nonton ke bioskop. Maklumlah, inilah cara kami
berpacaran mahasiswa perantauan yang jauh dan masih menerima kiriman orang tua
setiap bulannya. Dan kami juga sebenarnya bisa dikatakan dua sejoli yang
memiliki kehidupan yang sederhana..Alhamdulillah.
By the way, jarang-jarang banget dikampus ini
kita bisa merasakan liburan panjang sambil menikmati perjalanan waktu tanpa
kesibukan, aktivitas, dan tugas kampus yang terkadang terasa sangat melelahkan.
Hari ini liburan tanggal merah dihari selasa, artinya kami punya kesempatan
langka untuk menikmati liburan ditengah kesibukan kampus, karna bonus 1 hari
liburan dihari senin dan sabtu karna tidak adanya kegiatan perkuliahan.
Sehari
sebelumnya “si pacar” udah wanti-wanti gue banget supaya besoknya, liburan
waisak kita bisa jalan-jalan seharian. Karena jarang sekali kita bisa melalui
hari-hari seperti ini. Sekali lagi, selain karna kita sama-sama disibukkan
dengan aktivitas kuliah dan organisasi masing-masing selain itu ya agar bisa
menghemat juga sih. Hitung-hitung kalo keseringan pergi jalan-jalan, mending
uangnya bisa dihemat atau ditabung. Begitulah cara kami berpacaran, tidak
banyak tempat yang dikunjungi tapi setiap hari yang kita lalui selalu terasa
menyenangkan meskipun diselangi dengan pertengkaran kecil atau semacamnya. J
Karna
ajakan dan kesempatan langka ini, gue pun setuju dengan ajakan “si pacar”untuk
jalan seharian dan keluar dari hingar bingar kota Bogor, khususnya kabupaten
padat seperti Dramaga ini. Sebelum hal ini terjadi, pagi itu kami sempat akan
membatalkan janji ini karena ada beberapa hal yang tak terduga terjadi saat
itu. Dimulai dengan “si pacar” yang ternyata ada tugas dan deadline hari itu
juga dan ajakan dadakan dari temen gue semalam
sebelumnya. Gue sempat mengiyakan ajakan valent untuk main badminton dipagi
harinya, karena gue sempat melupakan (red:
tidak sengaja) janji sama “si pacar” dan malahan juga mengajaknya (pacar) agar
pagi itu juga bisa ikut olahraga pagi. Karena sudah terlanjur mengiyakan kedua
ajakan tersebut, maka sebelum berangkat ke Jakarta sama “si pacar”, gue
nyempatin maen badminton dulu sama sahabat gue valent.
Awalnya
hari itu, Dwi ngajakin gue pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Tapi diperjalanan
kita merubah tujuan semula. Ngga tau knapa hari itu gue pengen banget menikmati
suasana pantai, yang akhirnya membawa kami nyasar ke Pantai Ancol.
Hari ini
terasa sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang pernah kita lalui,
sehari ini gue seneng banget bisa jalan sama “si pacar”. Kami sangat menikmati
perjalanan dari Bogor sampai ke Ancol, dan juga karena kami telah melewati
begitu banyak peristiwa yang sangat lucu dan berkesan ataupun yang mengharukan
kita berdua.
Sayangnya,
perjalanan kami ini tidak memiliki persiapan yang banyak, mulai dari
perencanaan yang matang (yang awalnya ingin ke ragunan berubah rencana kerumaha
kakanya “si pacar” sampai pada akhirnya kami merubah tujuan perjalanan ke
Pantai Ancol), dan yang paling krusial adalah persiapan financial kami yang
tidak begitu baik pada hari ini. J Namun,
semua itu tidak berpengaruh banyak terhadap lancarnya perjalanan dan kebahagian
kami pada hari ini. Meskipun sempat mengubah rencana tujuan kami tetap bisa
senang dan sangat menikmati perjalanan hari ini. Meskipun financial kami sedang
tidak baik pada hari ini, kami masih bisa sangat menikmati semua keindahan alam
yang ampuh merefresh kembali otak kami pada hari itu (meskipun karena alas an financial
ini kami tidak bisa menikmati sepenuhnya fasilitas ditempat wisata tersebut). But
well, kami sangan enjoy pada hari ini, kami sangat berbahagia. Berbeda dengan
hari-hari biasanya gue selalu menjadi peran antagonis dalam hubungan kami, tapi
pada hari ini gue sangat merasakan bahagia bersama “si pacar”.
Karena alas
an itu lah perjalanan kami bagaikan perjalanan sepasang sijoli yang agak
sedikit memaksa, sehingga intensitas kata “hemat beb” menjadi
lebih sering dilontarkan, tidak banyak disesali tapi itulah kenyataannya. Kami senang.
Mengahrukan bukan??
Ada satu
kejadian yang membuat gue gak berhenti tertawa, pada saat kami ingin meminjam
sepeda di sebuah shelter sepeda untuk bisa menikmati keindahan sore hari di
Pantai Ancol. Terjadilah sebuah percakapan pendek antara “si pacar” mas-mas
penjaga shelter sepeda. Ketika kami menghampiri tempat itu, ternyata ada salah
satu syarat agar kami bisa meminjam sepeda tersebut yaitu dengan menyerahkan
kartu SIM. Namun, tidak banyak berpikir panjang sebelumnya dengan antusias “si
pacar” mendekati tempat itu dan bertanya.
“Mas, saya
mau meminjam sepeda disini tapi say tidak punya sim. Boleh pakai kartu identisa
lainnya?”, kata “si pacar”.
“Maaf mas,
gak bisa”, jawab “si penjaga”.
“Kalo pake
KTP atau KTM, boleh ga mas??”
“Maaff
mass, gakk bisaa J”, dengan
senyum mas “si penjaga” menjawab lagi.
Mendengar
jawaban itu “si pacar” kembali menghampiri gue dan menceritakan semuanya. “saying,
kita gak bisa pinjem sepedanya karena SIM aku hilang. Jadi gimana? Gak pa
apa kan saying?”, kata pacarku.
“Yah, sayang
masa iya sih kita ga boleh pinjem sepedanya? Aku kan pengen banget keliling
sini diboncengin sepeda sama kamu.”
………
suasana berubah mejadi tenang.
“Naah… “
gue nyeletuk karena baru saja terpikirkan sebuah ide yang rasa-rasanya ini
adalah ide yang sangat cemerlang. “gimana kalo kita tetep pinjem sepedanya
yang, tapi gak pake SIM?”.
“Maksud
kamu, pake KTP atau KTM, gitu?”.
”Hmmm…” aku diam sambil agak setengah setuju
karena ide yang sebenarnya bukan dengan menggati jaminan dengan kartu KTP atau
KTM.
Lalu si
pacar berkata lagi “sayang, tadi kan aku udah nyoba, tapi kata mas-masnya gak
bisa..”.
“bukan
gitu yang, maksud aku kita pake SIM kamu aja, SIM selam siapa tau aja bisa
kaan??”. Sambil agak sedikit tersenyum licik plus girang gak jelas.
“Si pacar” kemudian menggapi ide cemerlang gue
ini.“hahaha..kamu bener juga ya yang, ntar yah aku coba tanyain”. Kamudian dengan
masih tersenyum girang dia kembali ke tempat itu dan bertanya. “Mas, saya punya
SIM selam, apa boleh saya pinjem sepedanya dengan jaminan SIM selam saya mas??”
Kontak saja
“si penjaga” itu tertawa geli mendengarnya, dan gue yang mendengar dari
belakangnya juga ikutan tertawa bahak. “Lah kalo gitu mas, sepeda berate gak
dipake di darat dong tapi dipake buat selam..”. Pada saat itu, percakapan ini
membuat semua orang disekitar tempat itu menjadi tertawa, kami merasa malu tapi
tetap menikmatinya karena kejadian inilah yang membuat perjalanan kami hari ini
terasa lebih menyenangkan dan lebih berkesan. I’ll always love you with what everything you are :*
mantep.. terus semangat laa..!
BalasHapuskeep on writing :D