Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah,
lemayaan !
By:
Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)
Masih inget sama cerita di blog
sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan
kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil
Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja
di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada
dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja
Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar??
Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak
bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised
juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan
berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap
tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin
mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada
keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla
mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass
Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya
mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung.
Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu
dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi
dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku
mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian
ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain
tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep
segala lah. It’s OKAY, tetap positive
thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari
yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan
sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu
cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang
terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah
kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo
gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak
salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin
*Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang
sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla,
marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa
saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu,
itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla
langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya.
Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar
mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga
pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing,
Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini,
Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah
padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit
teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang
di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan
umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang
memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak
berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada
dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang
HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu
diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang
diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari
Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit
uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk
mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk
membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi
ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau
ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia
bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue
masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu
kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang
sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil
Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri,
lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan
dengan sedikit pernyataan yang agak lebay
juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la,
dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi
wajah dan nada bicara Syakira juga
mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil
menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting
profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi
samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya
Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk
mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak
terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu
ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu
kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih,
almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak
kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah,
sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi
mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil
bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga
pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung.
Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu
disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”,
Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak
ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha
muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg
dooong..!! hahahaaa J
” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka
antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang
berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal
syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa
banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi
itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit
dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah
nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit,
seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk
Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu
seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”,
celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang
kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan
Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya,
saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka
mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan
membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai
melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take
video.
Saat itu, mereka hanya
disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan
mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya.
Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu
“pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di
depan kamera.
“Sampe berapa kali nih
kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali
lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara
tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap
percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan
dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi
pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap
acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio
yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya
dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada
salahnya mereka untuk mencoba casting
suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara,
karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah
menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan,
sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka
bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang
sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan
rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang
pratikum, Ardilla menerima sms lagi
dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi
seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia
sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan
kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla,
mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan
kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus
nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek
bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat
menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi
empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya
ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa
kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya
jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang
kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik
itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi
video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan
mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang
gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia
pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil.
Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya.
Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli
sendiri. J
Dan satu hal, yang
membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus,
teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis
guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun
menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun,
Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa
kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar