Senin, 05 Desember 2011

Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !


Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !
By: Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)

Masih inget sama cerita di blog sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar?? Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung. Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep segala lah. It’s OKAY, tetap positive thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin *Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla, marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu, itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya. Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak  Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing, Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini, Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit  uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri, lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan dengan sedikit pernyataan yang agak lebay juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la, dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi wajah dan nada bicara Syakira juga mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih, almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah, sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung. Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”, Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg dooong..!! hahahaaa J ” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby  ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit, seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”, celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya, saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take video.
Saat itu, mereka hanya disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya. Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu “pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di depan kamera.
“Sampe berapa kali nih kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada salahnya mereka untuk mencoba casting suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara, karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan, sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang pratikum, Ardilla menerima sms lagi dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla, mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil. Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya. Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli sendiri. J
Dan satu hal, yang membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus, teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun, Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti.  J




Tidak ada komentar:

Posting Komentar