Keteguhan
dan Ketegaran Hatinya
[By:
Olla, 20 Jan 2012/4:05 am]
Diantara
sekian banyak kisahnya tentang kisah percintaan, persahabatanya, kesehariannya.
Disini juga akan di kisahkan bagaimana mimpi Ardilla yang sangat besar untuk
pendidikan dan masa depannya ataupun tentang personalnya. Ardilla merupakan
anak pertama dan anak perempuan satu-satunya dari tiga orang bersaudara. Ardilla
adalah perempuan yang sangat tegar, mandiri dan sangat dewasa dikeluarganya
terlebih semanjak ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu tepat sebelum ia
memasuki bangku kuliah. Walaupun di depan Adi dia lebih sering bersikap seperti
anak kecil 5 tahun, tapi inilah Ardilla sebenarnya di lingkungan keluarganya.
Ardilla
terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga ia pun tumbuh dengan
kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Semasa hidup ayahnya, Ardilla
sangatlah disayangi oleh ayahnya. Begitupun juga dengan Ardilla, karena ia
sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dahulu Ardilla sebenarnya manja dengan
ayahnya, tapi setelah ayahnya tiada ternyata Ardilla bisa bersikap lebih dewasa
dikeluarga karena memang dahulu kemanjaannya itu hanya kepada ayahnya saja.
Tapi mungkin sekarang ia merasa Adi (pacarnya) juga bisa menjadi pengganti
ayahnya, entah karena apa Ardilla terkadang menjadi sangat manja kepada Adi dibanding
dengan teman dekat yang dulu penah dikenalnya, ia sangatlah cuek.
Satu
kebahagiaan terakhir yang tidak akan pernah Ardilla lupakan sebelum ia tidak
akan pernah melihat ayahnya untuk selamanya, yaitu ketika ia lulus SMA Ardilla
diterima tanpa tes disebuah Perguruan Tinggi Negri ternama di negri ini. Kala
itu, ayah Ardilla sangatlah bahagia sekali menerima kabar tersebut.
Sampai-sampai copy-an surat undangan
penerimaan mahasiswa baru itu, dibawanya kemana-mana untuk ditunjukkannya
kepada teman-temannya. Begitu senang dan bangganya ia kepada anak perempuan
satu-satunya itu. Dan waktu itu, ayah Ardilla pun bertekad untuk mengantarkan
anaknya yang akan kuliah ke seberang pulau sampai ia benar yakin anaknya akan
selamat, aman, dan merasa sangat nyaman untuk melanjutkan pendidikannya disana.
Namun,
saat itu takdir Tuhan berkata lain. Sebulan sebelum keberangkatan Ardilla ke
Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikannya, kedua orang tuanya mendapat musibah
kecalakaan. Ayah Ardilla mendapat luka yang sangat parah sampai ayahnya harus
dirujuk ke rumah sakit di luar kota, karena tidak sanggup menangani luka
ayahnya yang sangat parah. Suatu peristiwa yang tidak dapat ditolak dan takdir
memang harus terjadi. Ayah ardilla akhirnya menemui usia akhirnya setelah
sampai di rumah sakit rujukan dan sempat menerima beberapa perlakuan dari
dokter untuk menolong ayahnya.
Saat
itu, Ardilla ingin mengis sangat keras sekali dan berteriak, “Tuhaaaaaanku..
tolong jangan ambil ayahku sekarang…”. Tapi Ardilla tidak dapat melakukannya,
karena bagaimana mungkin ia memperlihatkan kesedihannya yang begitu dalam
disamping ia harus menenangkan kedua adiknya dan membuat ibunya bisa semakin
tabah dan kuat yang juga mengalami kecelakaan tersebut. Pada saat itu Ardilla,
berusaha menahan semua kesedihannya di depan semua orang.
Kesedihan
tidak boleh berlarut begitu lama, meskipun kenangan tentang ayahnya selalu
abadi untuknya, ibunya dan adik-adiknya. Karena itulah, yang membuat semangat
Ardilla semakin memuncak untuk melanjutkan ke PTN yang menerimanya tanpa tes.
Karena ia sangat yakin bahwa ayahnya pasti sangat menginginkan hal itu terjadi.
Meskipun pada awalnya, Ardilla hanya ingin kuliah dekat dengan kota
kelahirannya dan juga ibunya mulai menentang keinginannya itu, karena ibunya
yang masih sangat dalam merasakan kehilangannya setelah ayah Ardilla meninggal
dan ditambah lagi Ardilla akan meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama
dan jarak yang sangat jauh baginya.
Karena
ayahnya, karena ibunya dan adik-adiknya itulah Ardilla tidak henti mengejar
mimpi-mimpinya walaupun iya harus meninggalkan rumah dengan waktu yang lama dan
jarak yang sangat jauh dari orang tuanya. Ardilla pergi meninggalkan rumahnya
untuk melanjutkan pendidikannya sebulan setelah ayahnya wafat, dan suasana duka
masih lekat pada dirinya dan keluarganya. Tapi apa boleh buat, Ardilla memang
harus berangkat pada saat itu juga untuk daftar ulang masuk PTN. Saat itu,
Ardilla memampukan dirinya untuk bisa
mengantarkan diri sampai di Bogor, Jawa Barat tanpa ditemani oleh ibunya.
Meskipun kesedihan kerap menghampiri dirinya, ketika hari pertama penerimaan ia
melihat begitu banyak teman-teman barunya dan mereka kebanyakan diantarkan oleh
keluarga atau paling tidak ditemani oleh ayah atau ibu saja. Tapi tidak dengan
Ardilla, dia harus bisa menelan bulat-bulat kenyataan yang ada dihadapannya.
Bahwa ia pasti bisa melewati semuanya sendiri, dan dilangkah kaki pertamanya
dengan doa dan tekad sebisa mungkin ia tidak ingin lagi merepotkan orang
tuanya, kabar baiklah yang akan selalu ia kirimkan pulang.
Sekarang
Ardilla menjalani kehidupannya di kota baru dan kehidupan baru jauh dari kota
kelahirannya dan tentu saja jauh dari keluarganya. Kenyataan hiduplah yang
semakin membuat semangatnya selalu menyala untuk bisa bertahan jauh dari
keluarga. Sehingga nantinya pun Ardilla benar bisa membahagiakan orang tua dan
seluruh keluarga besarnya dengan semua mimpi yang akan dikejarnya.
Pada
tahun kdeua Ardilla sempat mengambil masa cuti kuliah karena sakit dan dua kali
operasi sehingga ia perlu mengambil masa istirahat untuk memulihkan kondisinya.
Meskipun ia tertinggal dari teman-teman seangkatannya, hal ini tidak membuat ia
patah semangat untuk terus maju. Satu hal, yang sangat Ardilla inginkan adalah,
membahagiakan ibunya, orang tua satu-satunya yang dia miliki sekarang. Sehingga
ketika sudah lulus dan bekerja mapan ia ingin membantu meringankan beban ibunya
membesarkan adik-adiknya dan membawa ibu selalu bersamanya sampai ia tua nanti,
ia harus bersama-sama ibunya meskipun sudah berkeluarga dan bisa merawat ibunya
dihari tua nanti.Semoga.