Hallo...semua, kali ini Ardilla tidak akan
menceritakan tentang apa yang ia lakukan sehari ini, tapi sedikit bercerita
tentang apa yang dia rasakan. Ardilla sama seperti perempuan lainnya, meskipun
kesehariannya ia adalah seorang yang sangat keras dan cuek, tapi ternyata dia
juga bisa menjadi sangat sensitive dan susah untuk tidak menghiraukan apa yang
terjadi disekelilingnya. Malam ini Ardilla, merasakan prilaku yang berbeda dari
Adi pacarnya. Ardilla merasa pacarnya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan
tidak begitu menghiraukan dirinya. Padahal memang Adi, pacarnya saat itu sedang
disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik yang sedang ia
tekuni, bahkan tak juga jarang ia menceritakan semuanya kepada Ardilla. Namun,
Ardilla tetaplah seorang perempuan yang kadangkala dari semua hal yang
sebenarnya bisa ia mengerti dengan sebenar-benarnya dikepalanya, tapi
perasaannya selalu mendominasi segalanya. Sensitive memang, hatinya tidak dapat
menerima kalau kenyataanya Adi itu memang disibukan oleh semua kegiatannya dan
menganggap sikap Adi sangat berubah kepadanya. Terkadang Ardilla lebih sering
mengiyakan apa yang dia rasakan tentang Adi ketimbang apa yang ia pikirkan
tentang Adi. Terkadang ia berpikir wajar saja Adi lebih suka memiliki banyak
waktu dikampus dengan teman-temannya sehingga intensitas waktu mereka untuk
bertemu menjadi berkurang, meski Adi dan teman-temannya itu memang sedang
melakukan suatu hal yang sangat penting. Ya itulah perasaan sensitifnya sering
tiba-tiba muncul dan ia merasa tidak terima kalau ia menjadi terabaikan oleh
Adi.
Tidak tahulah apa yang ada dipikirannya, apa ia
tidak pernah tahu betapa baiknya Adi kepadanya? Apakah ia tidak menyadari betapa
Adi meluangkan sekian waktunya untuk bisa bersama Ardilla, meski ditengah
kesibukan, kepenatannya dari semua aktivitas yang ia lakukan dikampus? Bahkan tak
jarang Adi, ditengah dan disela kesibukannya ia lari sejenak untuk menemui
Ardilla, ya katanya “sayang, aku lagi pusing dengan semua yang aku hadapi
dikampus sekarang. Aku kesini ingin bertemu kamu karena kalo aku ketemu sama
kamu kadang bisa bikin pikiran aku lebih baik”.
Ardilla sebenarnya adalah perempuan yang mudah
luluh, betapa senangnya ia mendengar kalimat itu diucapkan oleh pacarnya. Ketika
baiknya suasana hatinya Ardilla bisa mengatakan kalimat yang bisa membuat Adi
menjadi lebih tenang “iya sayang, aku ngerti dengan semua kesibukan kamu. Kamu harus
tetap semangat ya, aku yakin jagoanku pasti bisa melewati ini semua”. Bagi Adi
kalimat itu bisa seperti oase ditengah gurun jika diumpakan. Orang lain mungkin
dengan mudah berkata, mereka terlalu lebay dalam mengungkapkan perasaannya,
tapi memang itulah yang benar ia rasakan.
Namun, ketiga sifat egois Ardilla muncul lagi,
meski Adi melakukan banyak pengorbanan untuknya, selalu menemuinya disaat Adi
banyak kesibukan, selalu bisa membagi perhatiannya untuk Ardilla. Seakan-akan
semua itu tidak berarti untuknya, meski sebenarnya ia tahu itu aadalah bentuk
pengorbanan yang dilakukan oleh pacarnya itu. Terlalu berlebihan, kadang ia
tidak bisa terima ketika waktu Adi lebih banyak tercurahkan untuk semua
aktivitasnya meski disela itu selalu bisa menyempatkan untuknya. Ia berubah
menjadi sangat sensitive dan kalap. Ardilla, dengan segala kebutaannya bisa
marah hanya masalah waktu Adi sedikit terbagi untuknya. Itulah Ardilla. Tapi,
dibalik keras hatinya itu, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia sangat
menyayangi Adi, pikirnya.
Lain cerita dengan Adi. Mungkin Adi berpikir,
bahwa Ardilla terlalu keras hatinya dan sangat egois. Wajar saja, karena memang
Ardilla lebih suka memperlihatkan sikap kerasnya dan ngambek sama Adi ketimbang
ia harus mengatakan “Aku sebenarnya, sangat membutuhkan kamu. Bahkan aku tidak
bisa hilang dari kamu meskipun aku tahu kamu ada dimana. Aku hanya ingin kamu
slalu ada didekatku”. Begitu tinggi gengsinya. Mungkin Adi tidak pernah
mengetahui, ketika Ardilla menjadi lebih sensitif disaat ia memiliki sedikit
waktu bersama, Ardilla hanya ingin mendapatka respon dari Adi dan menunjukkan
betapa sebenarnya Adi tidak pernah melupakannya sedikitpun. Tapi itulah
sempurnanya Adi, meski mungkin ia tidak pernah tahu itu ia selalu bisa membaca
pikiran Ardilla. Ia tidak pernah marah atau meninggalkan Ardilla, bahkan ia
tidak rela meninggalkan Ardilla dalam keadaan seperti itu sampai Ardilla
bersikap baik (tidak marah seperti biasanya) lagi kepadanya. Disaat itu,
sebenarnya Ardilla sudah percaya ternyata memang Adi tidak pernah berniat
meninggalkannya bahkan untuk melupakannya. Adi memiliki respon yang sangat baik
padanya.
Adi, adalah seorang yang sangat baik. semoga
Ardilla bisa menyadari hal itu. Semoga Ardilla bisa berubah menjadi seorang
yang lebih sabar dan tidak mudah marah. Karena sampai kapanpun Adi akan sangat
menyayanginya dan bersikap baik padanya, sehingga Ardilla menjadi benar-benar
pantas untuk Adi, dan demikian juga dengan Adi. Smogaa.. J
Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah,
lemayaan !
By:
Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)
Masih inget sama cerita di blog
sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan
kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil
Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja
di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada
dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja
Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar??
Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak
bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised
juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan
berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap
tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin
mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada
keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla
mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass
Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya
mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung.
Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu
dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi
dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku
mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian
ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain
tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep
segala lah. It’s OKAY, tetap positive
thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari
yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan
sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu
cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang
terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah
kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo
gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak
salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin
*Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang
sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla,
marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa
saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu,
itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla
langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya.
Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar
mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga
pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing,
Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini,
Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah
padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit
teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang
di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan
umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang
memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak
berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada
dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang
HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu
diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang
diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari
Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit
uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk
mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk
membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi
ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau
ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia
bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue
masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu
kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang
sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil
Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri,
lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan
dengan sedikit pernyataan yang agak lebay
juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la,
dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi
wajah dan nada bicara Syakira juga
mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil
menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting
profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi
samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya
Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk
mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak
terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu
ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu
kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih,
almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak
kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah,
sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi
mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil
bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga
pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung.
Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu
disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”,
Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak
ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha
muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg
dooong..!! hahahaaa J
” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka
antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang
berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal
syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa
banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi
itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit
dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah
nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit,
seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk
Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu
seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”,
celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang
kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan
Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya,
saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka
mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan
membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai
melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take
video.
Saat itu, mereka hanya
disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan
mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya.
Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu
“pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di
depan kamera.
“Sampe berapa kali nih
kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali
lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara
tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap
percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan
dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi
pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap
acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio
yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya
dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada
salahnya mereka untuk mencoba casting
suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara,
karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah
menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan,
sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka
bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang
sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan
rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang
pratikum, Ardilla menerima sms lagi
dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi
seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia
sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan
kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla,
mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan
kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus
nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek
bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat
menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi
empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya
ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa
kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya
jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang
kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik
itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi
video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan
mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang
gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia
pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil.
Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya.
Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli
sendiri. J
Dan satu hal, yang
membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus,
teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis
guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun
menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun,
Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa
kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti. J
Selasa malam itu, seperti biasanya
Ardilla dan teman-teman sekontrakannya berkumpul dirumah orens-nya. Seperti
biasa, rumah ini selalu ramai dengan tawa, canda dan cerita diantara mereka
apalagi dihari mereka tidak memiliki aktivitas yang membuat mereka memiliki
kesibukan masing-masing.
Ardilla punya 3 orang sahabat dekat
dirumah itu yaitu Tami, Dian dan Ama. Mereka semua bukanlah tipe orang yang
bisa diam. Tapi Dian memang yang paling diam diantara mereka bertiga meski
sebenarnya dalam skala normal Dian tidak termasuk orang yang seperti itu. Tami
dan Ama adalah teman Ardilla yang mereka sering sebut orang cangak. Cangak
mereka artikan adalah sebagai orang yang periang, senang membuat lucu dan terkadang
jail, sama dengan Ardilla dan kedua temannya. Karena itulah, Dian menjadi orang yang paling calm diantara mereka semua, dan biasanya
hanya menanggapi semua kejadian lucu dengan tertawa bahak tanpa ikut terlibat
dalam segala kekonyolan yang terjadi dirumah itu. Begitulah Dian.
****
Paginya, Tami dan Ardilla tidak ada
jadwal dan Ama hanya kuliah sampai pukul 10 pagi, hingga seisi rumah itu
kembali ramai oleh mereka bertiga. Maklumlah mahasiswa tingkat akhir yang sudah
mulai longgar jadwal kuliahnya. Kebetulan Tami saat itu sedang dipinjami kamera
oleh temannya, tidak tahulah siapa.
Sehingga, saat itu mereka habiskan waktunya untuk berfoto-foto. Ardilla
dan Tami sangat menyukai fotografi dan terlebih Tami sangat senang mengedit
foto koleksi pribadinya.
****
Malam itu, saat mereka semua asik
bercengkrama diruang tv datanglah Diki pacarnya Ama. Karena itu Ama langsung
saja meninggalkan teman-temannya untuk menemui pacarnya. Tak ada yang salah,
karena begitulah biasanya diantara mereka berempat. Kadang Diki mau ikut
bergabung bersama mereka berempat, tapi tak ada salahnya juga kadang mereka
membutuhkan waktu untuk mereka bersama-sama, eh kecuali Tami karena saat ini
sedang jomlo.hehee..
Karena setelah Ama pergi keruangannya
bersama Diki, suasana kembali menjadi sepi, saat itu lah Ardilla, Tami, dan
Dian kembali dengan kesibukan masing-masing. Tetapi Tami dan Dian saat itu terlihat
bersama dikamarnya Tami. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat itu, mereke
terlihat asik berdua dan tertawa geli dengan kegiatan mereka lakukan saat itu.
Tak ambil pusing Ardilla yang cukup penasaran dengan suara cekikikan
teman-temannya itu, dia tetap melanjutkan kesibukannya dengan laptop
kesanyangannya.
Sesaat kemudian, Ardilla mendengar suara
panggilan temannya dari kamarnya Tami dan menanyakan suatu hal kepadanya.
Langsung saja, Ardilla mendatangi teman-temannya itu kekamar Tami. Ternyata,
yang membuat mereka tertawa sejak tadi itu adalah Tami dan Dian sedang asyik
mengedit foto Ama yang mereka (Ardilla. Tami, dan Ama) ambil tadi pagi. Ternyata,
pagi itu ada sebuah foto Ama dengan pose sedang mencium keteknya. Tidak bermaksud sengaja, melihat foto tersebut Tami dan
Dian memiliki ide untuk iseng dan jail terhadap foto tersebut. Tami dengan
segala keahlian dia mengedit foto, dia mengubah foto tersebut, jadi jika orang
melihatnya itu foto sangat “lucu” sekali.
Setelah itu, Ardilla dipanggil kekamar
karena tami menanyakan sebuah kata yang sering dilontarkan oleh Ardilla dalam
bahasa Inggris ketika melihat suatu hal yang menjijikkan.
“Laa… sini deh”, teriak Tami.
“Ada apa tam??” Tanya Ardilla.
“Bahasa Inggrisnya jijik yang sering lu
sebutin, apa deh?” Tanya tami balik.
“Emang kenapa tam?ICKEY. bentar ya gue ke kamar lo,” jawabnya dengan setengah teriak.
Lalu Ardilla berjalan mendatangi kamarnya
Tami, dan ternyata Ardilla melihat bahwa Tami sedang tertawa bahak saat
mengedit foto Ama. Ardilla pun tergoda untuk ikut dengan kejailan mereka
tersebut.
“Ya ampun, ternyata kalin tertawa karena
init oh..”
“Iya.. udah lo diem aja deh. Hahaa..”
kata tami
“Eh, kira-kira Ama marah ga ya??” Tami
kembali berceletuk.
Tapi tak seorang pun yang menanggapi
celetukan Tami tersebut dan kemudian mereka kembali tertawa bahak. Mendengar
hebohnya mereka bertiga yang kemudian mengundang Ama untuk datang ke kamar
tersebut saking penasarannya.
“Ada apa sih kalian, ketawa-tawa kayanya
seru banget deh. Ada apa sih?” kata Ama.
Langsung saja mereka bertiga sangat
kaget, melihat Ama berada di depan pintu kamar Tami, dengan spontan Tami
menutup laptopnya. “Hmmm… gak ada apa-apa kok” sahut tami, dan mereka semua
mengelak agar Ama tidak jadi melihat laptop tersebut sambil mereka membujuk Ama
untuk kembali ke kamarnya agar mereka bisa melanjutkannya. Foto itu akhirnya
jadi, spontan ide jahil mereka muncul lagi
untuk meng-upload foto tersebut ke sebuah account
dunia maya yang mereka miliki.
Mereka berpikir ini hanya sebuah lelucon
diantara mereka dan tidak berfikir lain selain itu. tetapi ternyata, kejadian
itu membuat Ama menjadi sangat marah dan tidak menegur teman-temannya. Semanjak
saat itu suasana menjadi berubah. Biasanya mereka terlihat kompak, rumah yang
selalu ramai dengan suara anak yang terlihat gembira berubah menjadi sepi.
Ardilla dan teman-temannya tahu, perubahan sikap Ama adalah karena foto itu. Mereka
sangat merasa bersalah atas kejadian tersebut. Suasana rumah jadi berubah,
karena tidak biasanya Ama seperti itu.
“Ama, maafkan kami, karena gue dan
temen-temen ga maksud bikin lo marah. kita temen-temen lo sayang sama elo Ma…
Semoga suasana seperti ini tidak bertahan lama, kami sangat sangat merindukan
suasana rumah orens yang hangat dan penuh tawa seperti biasanya…”
*mendadak canggung deh gue sama sahabat
baik gue satu ini. Dari hati yang terdalam gue bener-bener minta maaf atas
kejadian itu Ma. Moga kita tetep jadi BEST FRIEND yaa :* muaaaaah cipok basah
(Diantara malam-malam gue yang pernah dihantui makhluk gaib dirumah itu, inilah
malam terkeramat gue dirumah itu… smoga lekas membaik. I hope J)
Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, kita ga perlu meratapi segala kekurangan yang kita miliki. Terutama terhadap nikmat rezeki yang kita peroleh. Rezeki yang kita peroleh setiap harinya tidaklah selau sama, kadang kita bisa menikmati rezeki berlebih, cukup atau bahkan masih merasa kekurangan. Sebenarnya kita tidak perlu benar menghitung setiap kelbihan rezeki, kecukupan ataupun kekurangannya. Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan bersyukur kepada Allah Sang Pemberi rezeki umatnya.
Hal ini dialami sendiri oleh Ardilla, mahasiswi perantauan tingkat akhir disebuah perguruan tinggi negri di negeri ini. Beberapa bulan yang lalu dia mendaftarkan diri dalam sebuah program beasiswa di kampusnya. Kemudian setelah tau kalo dia adalah salah satu penerima beasiswa tersebut, Ardilla memutuskan untuk tidak lagi menerima uang kiriman untuk belanja perbulan yang biasa dikirim setiap bulannya oleh ibunya. Hal ini dia lakukan karena beberapa pertimbangan sehingga akhirnya Ardilla mampu memutuskan hal tersebut.
Awalnya, dia berfikir apakah dia yakin dengan keputusannya itu? apakah dia bisa mencukupi semua kebutuhannya disini tanpa uang kiriman orang tua?, tetapi semua fikiran itu mampu diabaikannya begitu saja, karena dia berpikir dia pasti bisa, dan beginilah caranya membantu mengurangi beban orang tuanya, ya… meski hanya dengan tindakan kecilnya itu.
Namun, memang tidak disangka-sangka rezeki itu memang tidak berpintu, rezeki itu datang dari mana-mana, sekali lagi Ardilla sangat bersyukur kepada Tuhan karena Dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan umatnya, disaat Ardilla telah meutuskan hal ini Allah tetap memberikannya rezeki dari pintu lainnya. Ada-ada saja memang. Mulanya, awal bulan November Ardilla mendapat pengumuman bahwa kelompok KKP (Kuliah Kerja Profesi)-nya termasuk Makalah terbaik dan harus dipresentasikan kepada LPPM di kampusnya pada akhir november, tepatnya 27 November 2011 lalu. Kelompok yang menang Juara 1 akan mendapat hadiah uang tunai. Tidak disangka-sangka kelompok Ardilla-lah yang menjadi Juaranya.
Pada hari itu juga Ardilla mendapatkan tawaran dari kakak kelasnya untuk membantu pekerjaannya dan lumayan dia mengapresiasi pekerjaannya. Lumayanlah untuk menambah sedikit uang sakunya. Kemudian, beberapa hari yang lalu Ardilla juga mendapatkan tawaran melalui kenalannya dari Humas Kampusnya untuk ikut syuting Profil Kampus. Untungnya Ardilla bisa melakukannya disela jadwal kuliah yang kosong.
“Alhamdulillah aku sangat bersyukur, dengan segala kekuranganku, Allah masih menyayangi ku dan tidak pernah melupakanku terlepas aku adalah umatnya yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa”, begitulah Ardilla mengucapkan kalimat syukurnya kepada Tuhan disela percakapnnya dengan seorang sahabatnya dikamar kos-kosan, saking bahagianya dan bersyukurnya Ardilla.
Dan karena itulah kita sebagai umatnya, diwajibkan untuk bisa selalu bersyukur terhadapa apa yang kita miliki.Subhanallah walhamdulillah :D
Beberapa
hari ini, “si pacar” selalu ngajakin gue untuk bisa meluangkan sedikit waktu
dan kita bisa menikmatinya bersama. Karna setelah 9 bulan lebih jadian, kita
tidak pernah jalan-jalan bersama kecuali makan malam bersama disekitar kampus,
nonton film-film hasil download-an
dikos, atau paling jauh yah nonton ke bioskop. Maklumlah, inilah cara kami
berpacaran mahasiswa perantauan yang jauh dan masih menerima kiriman orang tua
setiap bulannya. Dan kami juga sebenarnya bisa dikatakan dua sejoli yang
memiliki kehidupan yang sederhana..Alhamdulillah.
By the way, jarang-jarang banget dikampus ini
kita bisa merasakan liburan panjang sambil menikmati perjalanan waktu tanpa
kesibukan, aktivitas, dan tugas kampus yang terkadang terasa sangat melelahkan.
Hari ini liburan tanggal merah dihari selasa, artinya kami punya kesempatan
langka untuk menikmati liburan ditengah kesibukan kampus, karna bonus 1 hari
liburan dihari senin dan sabtu karna tidak adanya kegiatan perkuliahan.
Sehari
sebelumnya “si pacar” udah wanti-wanti gue banget supaya besoknya, liburan
waisak kita bisa jalan-jalan seharian. Karena jarang sekali kita bisa melalui
hari-hari seperti ini. Sekali lagi, selain karna kita sama-sama disibukkan
dengan aktivitas kuliah dan organisasi masing-masing selain itu ya agar bisa
menghemat juga sih. Hitung-hitung kalo keseringan pergi jalan-jalan, mending
uangnya bisa dihemat atau ditabung. Begitulah cara kami berpacaran, tidak
banyak tempat yang dikunjungi tapi setiap hari yang kita lalui selalu terasa
menyenangkan meskipun diselangi dengan pertengkaran kecil atau semacamnya. J
Karna
ajakan dan kesempatan langka ini, gue pun setuju dengan ajakan “si pacar”untuk
jalan seharian dan keluar dari hingar bingar kota Bogor, khususnya kabupaten
padat seperti Dramaga ini. Sebelum hal ini terjadi, pagi itu kami sempat akan
membatalkan janji ini karena ada beberapa hal yang tak terduga terjadi saat
itu. Dimulai dengan “si pacar” yang ternyata ada tugas dan deadline hari itu
juga dan ajakan dadakan dari temen gue semalam
sebelumnya. Gue sempat mengiyakan ajakan valent untuk main badminton dipagi
harinya, karena gue sempat melupakan (red:
tidak sengaja) janji sama “si pacar” dan malahan juga mengajaknya (pacar) agar
pagi itu juga bisa ikut olahraga pagi. Karena sudah terlanjur mengiyakan kedua
ajakan tersebut, maka sebelum berangkat ke Jakarta sama “si pacar”, gue
nyempatin maen badminton dulu sama sahabat gue valent.
Awalnya
hari itu, Dwi ngajakin gue pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Tapi diperjalanan
kita merubah tujuan semula. Ngga tau knapa hari itu gue pengen banget menikmati
suasana pantai, yang akhirnya membawa kami nyasar ke Pantai Ancol.
Hari ini
terasa sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang pernah kita lalui,
sehari ini gue seneng banget bisa jalan sama “si pacar”. Kami sangat menikmati
perjalanan dari Bogor sampai ke Ancol, dan juga karena kami telah melewati
begitu banyak peristiwa yang sangat lucu dan berkesan ataupun yang mengharukan
kita berdua.
Sayangnya,
perjalanan kami ini tidak memiliki persiapan yang banyak, mulai dari
perencanaan yang matang (yang awalnya ingin ke ragunan berubah rencana kerumaha
kakanya “si pacar” sampai pada akhirnya kami merubah tujuan perjalanan ke
Pantai Ancol), dan yang paling krusial adalah persiapan financial kami yang
tidak begitu baik pada hari ini. J Namun,
semua itu tidak berpengaruh banyak terhadap lancarnya perjalanan dan kebahagian
kami pada hari ini. Meskipun sempat mengubah rencana tujuan kami tetap bisa
senang dan sangat menikmati perjalanan hari ini. Meskipun financial kami sedang
tidak baik pada hari ini, kami masih bisa sangat menikmati semua keindahan alam
yang ampuh merefresh kembali otak kami pada hari itu (meskipun karena alas an financial
ini kami tidak bisa menikmati sepenuhnya fasilitas ditempat wisata tersebut). But
well, kami sangan enjoy pada hari ini, kami sangat berbahagia. Berbeda dengan
hari-hari biasanya gue selalu menjadi peran antagonis dalam hubungan kami, tapi
pada hari ini gue sangat merasakan bahagia bersama “si pacar”.
Karena alas
an itu lah perjalanan kami bagaikan perjalanan sepasang sijoli yang agak
sedikit memaksa, sehingga intensitas kata “hemat beb” menjadi
lebih sering dilontarkan, tidak banyak disesali tapi itulah kenyataannya. Kami senang.
Mengahrukan bukan??
Ada satu
kejadian yang membuat gue gak berhenti tertawa, pada saat kami ingin meminjam
sepeda di sebuah shelter sepeda untuk bisa menikmati keindahan sore hari di
Pantai Ancol. Terjadilah sebuah percakapan pendek antara “si pacar” mas-mas
penjaga shelter sepeda. Ketika kami menghampiri tempat itu, ternyata ada salah
satu syarat agar kami bisa meminjam sepeda tersebut yaitu dengan menyerahkan
kartu SIM. Namun, tidak banyak berpikir panjang sebelumnya dengan antusias “si
pacar” mendekati tempat itu dan bertanya.
“Mas, saya
mau meminjam sepeda disini tapi say tidak punya sim. Boleh pakai kartu identisa
lainnya?”, kata “si pacar”.
“Maaf mas,
gak bisa”, jawab “si penjaga”.
“Kalo pake
KTP atau KTM, boleh ga mas??”
“Maaff
mass, gakk bisaa J”, dengan
senyum mas “si penjaga” menjawab lagi.
Mendengar
jawaban itu “si pacar” kembali menghampiri gue dan menceritakan semuanya. “saying,
kita gak bisa pinjem sepedanya karena SIM aku hilang. Jadi gimana? Gak pa
apakan saying?”, kata pacarku.
“Yah, sayang
masa iya sih kita ga boleh pinjem sepedanya? Aku kan pengen banget keliling
sini diboncengin sepeda sama kamu.”
………
suasana berubah mejadi tenang.
“Naah… “
gue nyeletuk karena baru saja terpikirkan sebuah ide yang rasa-rasanya ini
adalah ide yang sangat cemerlang. “gimana kalo kita tetep pinjem sepedanya
yang, tapi gak pake SIM?”.
“Maksud
kamu, pake KTP atau KTM, gitu?”.
”Hmmm…” aku diam sambil agak setengah setuju
karena ide yang sebenarnya bukan dengan menggati jaminan dengan kartu KTP atau
KTM.
Lalu si
pacar berkata lagi “sayang, tadi kan aku udah nyoba, tapi kata mas-masnya gak
bisa..”.
“bukan
gitu yang, maksud aku kita pake SIM kamu aja, SIM selam siapa tau aja bisa
kaan??”. Sambil agak sedikit tersenyum licik plus girang gak jelas.
“Si pacar” kemudian menggapi ide cemerlang gue
ini.“hahaha..kamu bener juga ya yang, ntar yah aku coba tanyain”. Kamudian dengan
masih tersenyum girang dia kembali ke tempat itu dan bertanya. “Mas, saya punya
SIM selam, apa boleh saya pinjem sepedanya dengan jaminan SIM selam saya mas??”
Kontak saja
“si penjaga” itu tertawa geli mendengarnya, dan gue yang mendengar dari
belakangnya juga ikutan tertawa bahak. “Lah kalo gitu mas, sepeda berate gak
dipake di darat dong tapi dipake buat selam..”. Pada saat itu, percakapan ini
membuat semua orang disekitar tempat itu menjadi tertawa, kami merasa malu tapi
tetap menikmatinya karena kejadian inilah yang membuat perjalanan kami hari ini
terasa lebih menyenangkan dan lebih berkesan. I’ll always love you with what everything you are :*