Rabu, 07 Desember 2011

Dinamika Ardilla dan Adi..

Dinamika Ardilla dan Adi..
by: Olla (071211. 10.50pm)
Hallo...semua, kali ini Ardilla tidak akan menceritakan tentang apa yang ia lakukan sehari ini, tapi sedikit bercerita tentang apa yang dia rasakan. Ardilla sama seperti perempuan lainnya, meskipun kesehariannya ia adalah seorang yang sangat keras dan cuek, tapi ternyata dia juga bisa menjadi sangat sensitive dan susah untuk tidak menghiraukan apa yang terjadi disekelilingnya. Malam ini Ardilla, merasakan prilaku yang berbeda dari Adi pacarnya. Ardilla merasa pacarnya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak begitu menghiraukan dirinya. Padahal memang Adi, pacarnya saat itu sedang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik yang sedang ia tekuni, bahkan tak juga jarang ia menceritakan semuanya kepada Ardilla. Namun, Ardilla tetaplah seorang perempuan yang kadangkala dari semua hal yang sebenarnya bisa ia mengerti dengan sebenar-benarnya dikepalanya, tapi perasaannya selalu mendominasi segalanya. Sensitive memang, hatinya tidak dapat menerima kalau kenyataanya Adi itu memang disibukan oleh semua kegiatannya dan menganggap sikap Adi sangat berubah kepadanya. Terkadang Ardilla lebih sering mengiyakan apa yang dia rasakan tentang Adi ketimbang apa yang ia pikirkan tentang Adi. Terkadang ia berpikir wajar saja Adi lebih suka memiliki banyak waktu dikampus dengan teman-temannya sehingga intensitas waktu mereka untuk bertemu menjadi berkurang, meski Adi dan teman-temannya itu memang sedang melakukan suatu hal yang sangat penting. Ya itulah perasaan sensitifnya sering tiba-tiba muncul dan ia merasa tidak terima kalau ia menjadi terabaikan oleh Adi.
Tidak tahulah apa yang ada dipikirannya, apa ia tidak pernah tahu betapa baiknya Adi kepadanya? Apakah ia tidak menyadari betapa Adi meluangkan sekian waktunya untuk bisa bersama Ardilla, meski ditengah kesibukan, kepenatannya dari semua aktivitas yang ia lakukan dikampus? Bahkan tak jarang Adi, ditengah dan disela kesibukannya ia lari sejenak untuk menemui Ardilla, ya katanya “sayang, aku lagi pusing dengan semua yang aku hadapi dikampus sekarang. Aku kesini ingin bertemu kamu karena kalo aku ketemu sama kamu kadang bisa bikin pikiran aku lebih baik”.
Ardilla sebenarnya adalah perempuan yang mudah luluh, betapa senangnya ia mendengar kalimat itu diucapkan oleh pacarnya. Ketika baiknya suasana hatinya Ardilla bisa mengatakan kalimat yang bisa membuat Adi menjadi lebih tenang “iya sayang, aku ngerti dengan semua kesibukan kamu. Kamu harus tetap semangat ya, aku yakin jagoanku pasti bisa melewati ini semua”. Bagi Adi kalimat itu bisa seperti oase ditengah gurun jika diumpakan. Orang lain mungkin dengan mudah berkata, mereka terlalu lebay dalam mengungkapkan perasaannya, tapi memang itulah yang benar ia rasakan.
Namun, ketiga sifat egois Ardilla muncul lagi, meski Adi melakukan banyak pengorbanan untuknya, selalu menemuinya disaat Adi banyak kesibukan, selalu bisa membagi perhatiannya untuk Ardilla. Seakan-akan semua itu tidak berarti untuknya, meski sebenarnya ia tahu itu aadalah bentuk pengorbanan yang dilakukan oleh pacarnya itu. Terlalu berlebihan, kadang ia tidak bisa terima ketika waktu Adi lebih banyak tercurahkan untuk semua aktivitasnya meski disela itu selalu bisa menyempatkan untuknya. Ia berubah menjadi sangat sensitive dan kalap. Ardilla, dengan segala kebutaannya bisa marah hanya masalah waktu Adi sedikit terbagi untuknya. Itulah Ardilla. Tapi, dibalik keras hatinya itu, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi Adi, pikirnya.
Lain cerita dengan Adi. Mungkin Adi berpikir, bahwa Ardilla terlalu keras hatinya dan sangat egois. Wajar saja, karena memang Ardilla lebih suka memperlihatkan sikap kerasnya dan ngambek sama Adi ketimbang ia harus mengatakan “Aku sebenarnya, sangat membutuhkan kamu. Bahkan aku tidak bisa hilang dari kamu meskipun aku tahu kamu ada dimana. Aku hanya ingin kamu slalu ada didekatku”. Begitu tinggi gengsinya. Mungkin Adi tidak pernah mengetahui, ketika Ardilla menjadi lebih sensitif disaat ia memiliki sedikit waktu bersama, Ardilla hanya ingin mendapatka respon dari Adi dan menunjukkan betapa sebenarnya Adi tidak pernah melupakannya sedikitpun. Tapi itulah sempurnanya Adi, meski mungkin ia tidak pernah tahu itu ia selalu bisa membaca pikiran Ardilla. Ia tidak pernah marah atau meninggalkan Ardilla, bahkan ia tidak rela meninggalkan Ardilla dalam keadaan seperti itu sampai Ardilla bersikap baik (tidak marah seperti biasanya) lagi kepadanya. Disaat itu, sebenarnya Ardilla sudah percaya ternyata memang Adi tidak pernah berniat meninggalkannya bahkan untuk melupakannya. Adi memiliki respon yang sangat baik padanya.
Adi, adalah seorang yang sangat baik. semoga Ardilla bisa menyadari hal itu. Semoga Ardilla bisa berubah menjadi seorang yang lebih sabar dan tidak mudah marah. Karena sampai kapanpun Adi akan sangat menyayanginya dan bersikap baik padanya, sehingga Ardilla menjadi benar-benar pantas untuk Adi, dan demikian juga dengan Adi. Smogaa.. J

Senin, 05 Desember 2011

Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !


Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !
By: Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)

Masih inget sama cerita di blog sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar?? Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung. Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep segala lah. It’s OKAY, tetap positive thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin *Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla, marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu, itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya. Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak  Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing, Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini, Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit  uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri, lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan dengan sedikit pernyataan yang agak lebay juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la, dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi wajah dan nada bicara Syakira juga mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih, almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah, sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung. Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”, Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg dooong..!! hahahaaa J ” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby  ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit, seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”, celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya, saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take video.
Saat itu, mereka hanya disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya. Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu “pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di depan kamera.
“Sampe berapa kali nih kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada salahnya mereka untuk mencoba casting suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara, karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan, sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang pratikum, Ardilla menerima sms lagi dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla, mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil. Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya. Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli sendiri. J
Dan satu hal, yang membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus, teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun, Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti.  J




Minggu, 04 Desember 2011

Malam Keramat di Rumah Orens


Malam Keramat di Rumah Orens
By: Olla, 3 Desember 2011

Selasa malam itu, seperti biasanya Ardilla dan teman-teman sekontrakannya berkumpul dirumah orens-nya. Seperti biasa, rumah ini selalu ramai dengan tawa, canda dan cerita diantara mereka apalagi dihari mereka tidak memiliki aktivitas yang membuat mereka memiliki kesibukan masing-masing.
Ardilla punya 3 orang sahabat dekat dirumah itu yaitu Tami, Dian dan Ama. Mereka semua bukanlah tipe orang yang bisa diam. Tapi Dian memang yang paling diam diantara mereka bertiga meski sebenarnya dalam skala normal Dian tidak termasuk orang yang seperti itu. Tami dan Ama adalah teman Ardilla yang mereka sering sebut orang cangak. Cangak mereka artikan adalah sebagai orang yang periang, senang membuat lucu dan terkadang jail, sama dengan Ardilla dan kedua temannya. Karena itulah, Dian menjadi orang yang paling calm diantara mereka semua, dan biasanya hanya menanggapi semua kejadian lucu dengan tertawa bahak tanpa ikut terlibat dalam segala kekonyolan yang terjadi dirumah itu. Begitulah Dian.
****
Paginya, Tami dan Ardilla tidak ada jadwal dan Ama hanya kuliah sampai pukul 10 pagi, hingga seisi rumah itu kembali ramai oleh mereka bertiga. Maklumlah mahasiswa tingkat akhir yang sudah mulai longgar jadwal kuliahnya. Kebetulan Tami saat itu sedang dipinjami kamera oleh temannya, tidak tahulah siapa.  Sehingga, saat itu mereka habiskan waktunya untuk berfoto-foto. Ardilla dan Tami sangat menyukai fotografi dan terlebih Tami sangat senang mengedit foto koleksi pribadinya.
****
Malam itu, saat mereka semua asik bercengkrama diruang tv datanglah Diki pacarnya Ama. Karena itu Ama langsung saja meninggalkan teman-temannya untuk menemui pacarnya. Tak ada yang salah, karena begitulah biasanya diantara mereka berempat. Kadang Diki mau ikut bergabung bersama mereka berempat, tapi tak ada salahnya juga kadang mereka membutuhkan waktu untuk mereka bersama-sama, eh kecuali Tami karena saat ini sedang jomlo.hehee..
Karena setelah Ama pergi keruangannya bersama Diki, suasana kembali menjadi sepi, saat itu lah Ardilla, Tami, dan Dian kembali dengan kesibukan masing-masing. Tetapi Tami dan Dian saat itu terlihat bersama dikamarnya Tami. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat itu, mereke terlihat asik berdua dan tertawa geli dengan kegiatan mereka lakukan saat itu. Tak ambil pusing Ardilla yang cukup penasaran dengan suara cekikikan teman-temannya itu, dia tetap melanjutkan kesibukannya dengan laptop kesanyangannya.
Sesaat kemudian, Ardilla mendengar suara panggilan temannya dari kamarnya Tami dan menanyakan suatu hal kepadanya. Langsung saja, Ardilla mendatangi teman-temannya itu kekamar Tami. Ternyata, yang membuat mereka tertawa sejak tadi itu adalah Tami dan Dian sedang asyik mengedit foto Ama yang mereka (Ardilla. Tami, dan Ama) ambil tadi pagi. Ternyata, pagi itu ada sebuah foto Ama dengan pose sedang mencium keteknya. Tidak bermaksud sengaja, melihat foto tersebut Tami dan Dian memiliki ide untuk iseng dan jail terhadap foto tersebut. Tami dengan segala keahlian dia mengedit foto, dia mengubah foto tersebut, jadi jika orang melihatnya itu foto sangat “lucu” sekali.
Setelah itu, Ardilla dipanggil kekamar karena tami menanyakan sebuah kata yang sering dilontarkan oleh Ardilla dalam bahasa Inggris ketika melihat suatu hal yang menjijikkan.
“Laa… sini deh”, teriak Tami.
“Ada apa tam??” Tanya Ardilla.
“Bahasa Inggrisnya jijik yang sering lu sebutin, apa deh?” Tanya tami balik.
“Emang kenapa tam?ICKEY. bentar ya gue ke kamar lo,” jawabnya dengan setengah teriak.
Lalu Ardilla berjalan mendatangi kamarnya Tami, dan ternyata Ardilla melihat bahwa Tami sedang tertawa bahak saat mengedit foto Ama. Ardilla pun tergoda untuk ikut dengan kejailan mereka tersebut.
“Ya ampun, ternyata kalin tertawa karena init oh..”
“Iya.. udah lo diem aja deh. Hahaa..” kata tami
“Eh, kira-kira Ama marah ga ya??” Tami kembali berceletuk.
Tapi tak seorang pun yang menanggapi celetukan Tami tersebut dan kemudian mereka kembali tertawa bahak. Mendengar hebohnya mereka bertiga yang kemudian mengundang Ama untuk datang ke kamar tersebut saking penasarannya.
“Ada apa sih kalian, ketawa-tawa kayanya seru banget deh. Ada apa sih?” kata Ama.
Langsung saja mereka bertiga sangat kaget, melihat Ama berada di depan pintu kamar Tami, dengan spontan Tami menutup laptopnya. “Hmmm… gak ada apa-apa kok” sahut tami, dan mereka semua mengelak agar Ama tidak jadi melihat laptop tersebut sambil mereka membujuk Ama untuk kembali ke kamarnya agar mereka bisa melanjutkannya. Foto itu akhirnya jadi, spontan ide jahil mereka muncul lagi untuk meng-upload foto tersebut ke sebuah account dunia maya yang mereka miliki.
Mereka berpikir ini hanya sebuah lelucon diantara mereka dan tidak berfikir lain selain itu. tetapi ternyata, kejadian itu membuat Ama menjadi sangat marah dan tidak menegur teman-temannya. Semanjak saat itu suasana menjadi berubah. Biasanya mereka terlihat kompak, rumah yang selalu ramai dengan suara anak yang terlihat gembira berubah menjadi sepi. Ardilla dan teman-temannya tahu, perubahan sikap Ama adalah karena foto itu. Mereka sangat merasa bersalah atas kejadian tersebut. Suasana rumah jadi berubah, karena tidak biasanya Ama seperti itu.
“Ama, maafkan kami, karena gue dan temen-temen ga maksud bikin lo marah. kita temen-temen lo sayang sama elo Ma… Semoga suasana seperti ini tidak bertahan lama, kami sangat sangat merindukan suasana rumah orens yang hangat dan penuh tawa seperti biasanya…”
*mendadak canggung deh gue sama sahabat baik gue satu ini. Dari hati yang terdalam gue bener-bener minta maaf atas kejadian itu Ma. Moga kita tetep jadi BEST FRIEND yaa :* muaaaaah cipok basah (Diantara malam-malam gue yang pernah dihantui makhluk gaib dirumah itu, inilah malam terkeramat gue dirumah itu… smoga lekas membaik. I hope J)

Kamis, 01 Desember 2011

Rezaki Memang Tak Berpintu


REZEKI MEMANG TAK BERPINTU
By: Olla, 011211

Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, kita ga perlu meratapi segala kekurangan yang kita miliki. Terutama terhadap nikmat rezeki yang kita peroleh. Rezeki yang kita peroleh setiap harinya tidaklah selau sama, kadang kita bisa menikmati rezeki berlebih, cukup atau bahkan masih merasa kekurangan. Sebenarnya kita tidak perlu benar menghitung setiap kelbihan rezeki, kecukupan ataupun kekurangannya. Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan bersyukur kepada Allah Sang Pemberi rezeki umatnya.
Hal ini dialami sendiri oleh Ardilla, mahasiswi  perantauan tingkat akhir disebuah perguruan tinggi negri di negeri ini. Beberapa bulan yang lalu dia mendaftarkan diri dalam sebuah program beasiswa di kampusnya. Kemudian setelah tau kalo dia adalah salah satu penerima beasiswa tersebut, Ardilla  memutuskan untuk tidak lagi menerima uang kiriman untuk belanja perbulan yang biasa dikirim setiap bulannya oleh ibunya. Hal ini dia lakukan karena beberapa pertimbangan sehingga akhirnya Ardilla mampu memutuskan hal tersebut.
Awalnya, dia berfikir apakah dia yakin dengan keputusannya itu? apakah dia bisa mencukupi semua kebutuhannya disini tanpa uang kiriman orang tua?, tetapi semua fikiran itu mampu diabaikannya begitu saja, karena dia berpikir dia pasti bisa, dan beginilah caranya membantu mengurangi beban orang tuanya, ya… meski hanya dengan tindakan kecilnya itu.
Namun, memang tidak disangka-sangka rezeki itu memang tidak berpintu, rezeki itu datang dari mana-mana, sekali lagi Ardilla sangat bersyukur kepada Tuhan karena Dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan umatnya, disaat Ardilla telah meutuskan hal ini Allah tetap memberikannya rezeki dari pintu lainnya. Ada-ada saja memang. Mulanya, awal bulan November Ardilla mendapat pengumuman bahwa kelompok KKP (Kuliah Kerja Profesi)-nya termasuk Makalah terbaik dan harus dipresentasikan kepada LPPM di kampusnya pada akhir november, tepatnya 27 November 2011 lalu. Kelompok yang menang Juara 1 akan mendapat hadiah uang tunai. Tidak disangka-sangka kelompok Ardilla-lah yang menjadi Juaranya.
Pada hari itu juga Ardilla mendapatkan tawaran dari kakak kelasnya untuk membantu pekerjaannya dan lumayan dia mengapresiasi pekerjaannya. Lumayanlah untuk menambah sedikit uang sakunya. Kemudian, beberapa hari yang lalu Ardilla juga mendapatkan tawaran melalui kenalannya  dari Humas Kampusnya untuk ikut syuting Profil Kampus. Untungnya Ardilla bisa melakukannya disela jadwal kuliah yang kosong.
“Alhamdulillah aku sangat bersyukur, dengan segala kekuranganku, Allah masih menyayangi ku dan tidak pernah melupakanku terlepas aku adalah umatnya yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa”, begitulah Ardilla mengucapkan kalimat syukurnya kepada Tuhan disela percakapnnya dengan seorang sahabatnya dikamar kos-kosan, saking bahagianya dan bersyukurnya Ardilla.
Dan karena itulah kita sebagai umatnya, diwajibkan untuk bisa selalu bersyukur terhadapa apa yang kita miliki.Subhanallah walhamdulillah :D

Hari Pertama Sehari Bersama ‘’ Hemat beeb..! ‘’

Hari Pertama Sehari Bersama
‘’ Hemat beeb..! ‘’
By: Olla, 250511
Beberapa hari ini, “si pacar” selalu ngajakin gue untuk bisa meluangkan sedikit waktu dan kita bisa menikmatinya bersama. Karna setelah 9 bulan lebih jadian, kita tidak pernah jalan-jalan bersama kecuali makan malam bersama disekitar kampus, nonton film-film hasil download-an dikos, atau paling jauh yah nonton ke bioskop. Maklumlah, inilah cara kami berpacaran mahasiswa perantauan yang jauh dan masih menerima kiriman orang tua setiap bulannya. Dan kami juga sebenarnya bisa dikatakan dua sejoli yang memiliki kehidupan yang sederhana..Alhamdulillah.
By the way, jarang-jarang banget dikampus ini kita bisa merasakan liburan panjang sambil menikmati perjalanan waktu tanpa kesibukan, aktivitas, dan tugas kampus yang terkadang terasa sangat melelahkan. Hari ini liburan tanggal merah dihari selasa, artinya kami punya kesempatan langka untuk menikmati liburan ditengah kesibukan kampus, karna bonus 1 hari liburan dihari senin dan sabtu karna tidak adanya kegiatan perkuliahan.
Sehari sebelumnya “si pacar” udah wanti-wanti gue banget supaya besoknya, liburan waisak kita bisa jalan-jalan seharian. Karena jarang sekali kita bisa melalui hari-hari seperti ini. Sekali lagi, selain karna kita sama-sama disibukkan dengan aktivitas kuliah dan organisasi masing-masing selain itu ya agar bisa menghemat juga sih. Hitung-hitung kalo keseringan pergi jalan-jalan, mending uangnya bisa dihemat atau ditabung. Begitulah cara kami berpacaran, tidak banyak tempat yang dikunjungi tapi setiap hari yang kita lalui selalu terasa menyenangkan meskipun diselangi dengan pertengkaran kecil atau semacamnya. J
Karna ajakan dan kesempatan langka ini, gue pun setuju dengan ajakan “si pacar”untuk jalan seharian dan keluar dari hingar bingar kota Bogor, khususnya kabupaten padat seperti Dramaga ini. Sebelum hal ini terjadi, pagi itu kami sempat akan membatalkan janji ini karena ada beberapa hal yang tak terduga terjadi saat itu. Dimulai dengan “si pacar” yang ternyata ada tugas dan deadline hari itu juga dan ajakan dadakan dari  temen gue semalam sebelumnya. Gue sempat mengiyakan ajakan valent untuk main badminton dipagi harinya, karena gue sempat melupakan (red: tidak sengaja) janji sama “si pacar” dan malahan juga mengajaknya (pacar) agar pagi itu juga bisa ikut olahraga pagi. Karena sudah terlanjur mengiyakan kedua ajakan tersebut, maka sebelum berangkat ke Jakarta sama “si pacar”, gue nyempatin maen badminton dulu sama sahabat gue valent.
Awalnya hari itu, Dwi ngajakin gue pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Tapi diperjalanan kita merubah tujuan semula. Ngga tau knapa hari itu gue pengen banget menikmati suasana pantai, yang akhirnya membawa kami nyasar ke Pantai Ancol.
Hari ini terasa sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang pernah kita lalui, sehari ini gue seneng banget bisa jalan sama “si pacar”. Kami sangat menikmati perjalanan dari Bogor sampai ke Ancol, dan juga karena kami telah melewati begitu banyak peristiwa yang sangat lucu dan berkesan ataupun yang mengharukan kita berdua.

Sayangnya, perjalanan kami ini tidak memiliki persiapan yang banyak, mulai dari perencanaan yang matang (yang awalnya ingin ke ragunan berubah rencana kerumaha kakanya “si pacar” sampai pada akhirnya kami merubah tujuan perjalanan ke Pantai Ancol), dan yang paling krusial adalah persiapan financial kami yang tidak begitu baik pada hari ini. J Namun, semua itu tidak berpengaruh banyak terhadap lancarnya perjalanan dan kebahagian kami pada hari ini. Meskipun sempat mengubah rencana tujuan kami tetap bisa senang dan sangat menikmati perjalanan hari ini. Meskipun financial kami sedang tidak baik pada hari ini, kami masih bisa sangat menikmati semua keindahan alam yang ampuh merefresh kembali otak kami pada hari itu (meskipun karena alas an financial ini kami tidak bisa menikmati sepenuhnya fasilitas ditempat wisata tersebut). But well, kami sangan enjoy pada hari ini, kami sangat berbahagia. Berbeda dengan hari-hari biasanya gue selalu menjadi peran antagonis dalam hubungan kami, tapi pada hari ini gue sangat merasakan bahagia bersama “si pacar”.
Karena alas an itu lah perjalanan kami bagaikan perjalanan sepasang sijoli yang agak sedikit memaksa, sehingga intensitas kata “hemat beb” menjadi lebih sering dilontarkan, tidak banyak disesali tapi itulah kenyataannya. Kami senang. Mengahrukan bukan??
Ada satu kejadian yang membuat gue gak berhenti tertawa, pada saat kami ingin meminjam sepeda di sebuah shelter sepeda untuk bisa menikmati keindahan sore hari di Pantai Ancol. Terjadilah sebuah percakapan pendek antara “si pacar” mas-mas penjaga shelter sepeda. Ketika kami menghampiri tempat itu, ternyata ada salah satu syarat agar kami bisa meminjam sepeda tersebut yaitu dengan menyerahkan kartu SIM. Namun, tidak banyak berpikir panjang sebelumnya dengan antusias “si pacar” mendekati tempat itu dan bertanya.
“Mas, saya mau meminjam sepeda disini tapi say tidak punya sim. Boleh pakai kartu identisa lainnya?”, kata “si pacar”.
“Maaf mas, gak bisa”, jawab “si penjaga”.
“Kalo pake KTP atau KTM, boleh ga mas??”
“Maaff mass, gakk bisaa J”, dengan senyum mas “si penjaga” menjawab lagi.
Mendengar jawaban itu “si pacar” kembali menghampiri gue dan menceritakan semuanya. “saying, kita gak bisa pinjem sepedanya karena SIM aku hilang. Jadi gimana? Gak pa apa  kan saying?”, kata pacarku.
“Yah, sayang masa iya sih kita ga boleh pinjem sepedanya? Aku kan pengen banget keliling sini diboncengin sepeda sama kamu.”
……… suasana berubah mejadi tenang.
“Naah… “ gue nyeletuk karena baru saja terpikirkan sebuah ide yang rasa-rasanya ini adalah ide yang sangat cemerlang. “gimana kalo kita tetep pinjem sepedanya yang, tapi gak pake SIM?”.
“Maksud kamu, pake KTP atau KTM, gitu?”.
 ”Hmmm…” aku diam sambil agak setengah setuju karena ide yang sebenarnya bukan dengan menggati jaminan dengan kartu KTP atau KTM.
Lalu si pacar berkata lagi “sayang, tadi kan aku udah nyoba, tapi kata mas-masnya gak bisa..”.
“bukan gitu yang, maksud aku kita pake SIM kamu aja, SIM selam siapa tau aja bisa kaan??”. Sambil agak sedikit tersenyum licik plus girang gak jelas.
 “Si pacar” kemudian menggapi ide cemerlang gue ini.“hahaha..kamu bener juga ya yang, ntar yah aku coba tanyain”. Kamudian dengan masih tersenyum girang dia kembali ke tempat itu dan bertanya. “Mas, saya punya SIM selam, apa boleh saya pinjem sepedanya dengan jaminan SIM selam saya mas??”
Kontak saja “si penjaga” itu tertawa geli mendengarnya, dan gue yang mendengar dari belakangnya juga ikutan tertawa bahak. “Lah kalo gitu mas, sepeda berate gak dipake di darat dong tapi dipake buat selam..”. Pada saat itu, percakapan ini membuat semua orang disekitar tempat itu menjadi tertawa, kami merasa malu tapi tetap menikmatinya karena kejadian inilah yang membuat perjalanan kami hari ini terasa lebih menyenangkan dan lebih berkesan. I’ll always love you with what everything you are :*