Kamis, 19 Januari 2012

Keteguhan dan Ketegaran Hatinya


Keteguhan dan Ketegaran Hatinya

 [By: Olla, 20 Jan 2012/4:05 am]
Diantara sekian banyak kisahnya tentang kisah percintaan, persahabatanya, kesehariannya. Disini juga akan di kisahkan bagaimana mimpi Ardilla yang sangat besar untuk pendidikan dan masa depannya ataupun tentang personalnya. Ardilla merupakan anak pertama dan anak perempuan satu-satunya dari tiga orang bersaudara. Ardilla adalah perempuan yang sangat tegar, mandiri dan sangat dewasa dikeluarganya terlebih semanjak ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu tepat sebelum ia memasuki bangku kuliah. Walaupun di depan Adi dia lebih sering bersikap seperti anak kecil 5 tahun, tapi inilah Ardilla sebenarnya di lingkungan keluarganya.
Ardilla terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga ia pun tumbuh dengan kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Semasa hidup ayahnya, Ardilla sangatlah disayangi oleh ayahnya. Begitupun juga dengan Ardilla, karena ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dahulu Ardilla sebenarnya manja dengan ayahnya, tapi setelah ayahnya tiada ternyata Ardilla bisa bersikap lebih dewasa dikeluarga karena memang dahulu kemanjaannya itu hanya kepada ayahnya saja. Tapi mungkin sekarang ia merasa Adi (pacarnya) juga bisa menjadi pengganti ayahnya, entah karena apa Ardilla terkadang menjadi sangat manja kepada Adi dibanding dengan teman dekat yang dulu penah dikenalnya, ia sangatlah cuek.
Satu kebahagiaan terakhir yang tidak akan pernah Ardilla lupakan sebelum ia tidak akan pernah melihat ayahnya untuk selamanya, yaitu ketika ia lulus SMA Ardilla diterima tanpa tes disebuah Perguruan Tinggi Negri ternama di negri ini. Kala itu, ayah Ardilla sangatlah bahagia sekali menerima kabar tersebut. Sampai-sampai copy-an surat undangan penerimaan mahasiswa baru itu, dibawanya kemana-mana untuk ditunjukkannya kepada teman-temannya. Begitu senang dan bangganya ia kepada anak perempuan satu-satunya itu. Dan waktu itu, ayah Ardilla pun bertekad untuk mengantarkan anaknya yang akan kuliah ke seberang pulau sampai ia benar yakin anaknya akan selamat, aman, dan merasa sangat nyaman untuk melanjutkan pendidikannya disana.
Namun, saat itu takdir Tuhan berkata lain. Sebulan sebelum keberangkatan Ardilla ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikannya, kedua orang tuanya mendapat musibah kecalakaan. Ayah Ardilla mendapat luka yang sangat parah sampai ayahnya harus dirujuk ke rumah sakit di luar kota, karena tidak sanggup menangani luka ayahnya yang sangat parah. Suatu peristiwa yang tidak dapat ditolak dan takdir memang harus terjadi. Ayah ardilla akhirnya menemui usia akhirnya setelah sampai di rumah sakit rujukan dan sempat menerima beberapa perlakuan dari dokter untuk menolong ayahnya.
Saat itu, Ardilla ingin mengis sangat keras sekali dan berteriak, “Tuhaaaaaanku.. tolong jangan ambil ayahku sekarang…”. Tapi Ardilla tidak dapat melakukannya, karena bagaimana mungkin ia memperlihatkan kesedihannya yang begitu dalam disamping ia harus menenangkan kedua adiknya dan membuat ibunya bisa semakin tabah dan kuat yang juga mengalami kecelakaan tersebut. Pada saat itu Ardilla, berusaha menahan semua kesedihannya di depan semua orang.
Kesedihan tidak boleh berlarut begitu lama, meskipun kenangan tentang ayahnya selalu abadi untuknya, ibunya dan adik-adiknya. Karena itulah, yang membuat semangat Ardilla semakin memuncak untuk melanjutkan ke PTN yang menerimanya tanpa tes. Karena ia sangat yakin bahwa ayahnya pasti sangat menginginkan hal itu terjadi. Meskipun pada awalnya, Ardilla hanya ingin kuliah dekat dengan kota kelahirannya dan juga ibunya mulai menentang keinginannya itu, karena ibunya yang masih sangat dalam merasakan kehilangannya setelah ayah Ardilla meninggal dan ditambah lagi Ardilla akan meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama dan jarak yang sangat jauh baginya.
Karena ayahnya, karena ibunya dan adik-adiknya itulah Ardilla tidak henti mengejar mimpi-mimpinya walaupun iya harus meninggalkan rumah dengan waktu yang lama dan jarak yang sangat jauh dari orang tuanya. Ardilla pergi meninggalkan rumahnya untuk melanjutkan pendidikannya sebulan setelah ayahnya wafat, dan suasana duka masih lekat pada dirinya dan keluarganya. Tapi apa boleh buat, Ardilla memang harus berangkat pada saat itu juga untuk daftar ulang masuk PTN. Saat itu, Ardilla memampukan dirinya untuk bisa mengantarkan diri sampai di Bogor, Jawa Barat tanpa ditemani oleh ibunya. Meskipun kesedihan kerap menghampiri dirinya, ketika hari pertama penerimaan ia melihat begitu banyak teman-teman barunya dan mereka kebanyakan diantarkan oleh keluarga atau paling tidak ditemani oleh ayah atau ibu saja. Tapi tidak dengan Ardilla, dia harus bisa menelan bulat-bulat kenyataan yang ada dihadapannya. Bahwa ia pasti bisa melewati semuanya sendiri, dan dilangkah kaki pertamanya dengan doa dan tekad sebisa mungkin ia tidak ingin lagi merepotkan orang tuanya, kabar baiklah yang akan selalu ia kirimkan pulang.
Sekarang Ardilla menjalani kehidupannya di kota baru dan kehidupan baru jauh dari kota kelahirannya dan tentu saja jauh dari keluarganya. Kenyataan hiduplah yang semakin membuat semangatnya selalu menyala untuk bisa bertahan jauh dari keluarga. Sehingga nantinya pun Ardilla benar bisa membahagiakan orang tua dan seluruh keluarga besarnya dengan semua mimpi yang akan dikejarnya.
Pada tahun kdeua Ardilla sempat mengambil masa cuti kuliah karena sakit dan dua kali operasi sehingga ia perlu mengambil masa istirahat untuk memulihkan kondisinya. Meskipun ia tertinggal dari teman-teman seangkatannya, hal ini tidak membuat ia patah semangat untuk terus maju. Satu hal, yang sangat Ardilla inginkan adalah, membahagiakan ibunya, orang tua satu-satunya yang dia miliki sekarang. Sehingga ketika sudah lulus dan bekerja mapan ia ingin membantu meringankan beban ibunya membesarkan adik-adiknya dan membawa ibu selalu bersamanya sampai ia tua nanti, ia harus bersama-sama ibunya meskipun sudah berkeluarga dan bisa merawat ibunya dihari tua nanti.Semoga.











Semuanya Hanya Sebuah Kebetulan Saja..


Semuanya Hanya Sebuah Kebetulan Saja..

[By : Olla, 9 Jan 2012/20 Jan 2012, 0:30am-2:55 am]
Malam itu, Ardilla dan Adi memiliki sedikit waktu lebih banyak untuk berleha-leha, tanpa kesibukan ekstra-kampus (baca: kegiatan organisasi) seperti biasanya. Namun mereka masih saja harus mengerjakan beribu tugas kampus yang tidak henti-hentinya. Maklum saja, karena hal ini pasti dialami oleh semua mahasiswa aktif dikampusnya. Pada malam itu, Ardilla tidak bisa mengakses internet di rumah kontrakannya, karena sedang ada gangguan. Jadi, ia  mengajak Adi untuk internet-an di kampus saja.
Tak seperti biasanya, malam itu Ardilla siap-siap ke kampus mengenakan sebuah syal. Biasanya cukup dengan setelan kaos, sweater, jilbab, dan celana jins. Hanya pada malam itu, dia memilih untuk mengenakan sebuah syal yang pernah diberikan oleh seseorang kepadanya diantara syal-syalnya yang lain. Entah dengan firasat apa, Ardilla jadi berangkat ke kampus bersama Adi pacarnya. Malam itu, ia pergi ke spot internet kampus dimana mereka biasa browsing internet disana dan juga ramai sekali teman-teman Adi yang mereka temui. Jadi, ngenet dikampus pun gak kalah ramai jika dibandingkan dengan ngenet di warnet, gratiss lagi.
Maklum kampus mereka memang sudah terkenal dengan kesibukan mahasiswanya di kampus siang dan malam, meskipun itu hari libur sekalipun. Ada-ada saja kegiatan yang dapat mereka lakukan. Jika siang hari merka sangat padat dengan kegiatan perkuliahan, maka malamnya adalah waktu penuh tercurah untuk tugas kuliah ataupun kegiatan organisasi yang menuntut komitmen yang tinggi bagi mereka yang mengikuti. Alhasil, kampus ini selalu bernyawa dengan aktifitas mahasiswanya yang tiada henti.
Balik lagi, ke cerita Ardilla dan Adi yang malam itu ngenet dikampus untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Sampai pada akhirnya, mereka tidak sadar bahwa mereka telah berada dikampus sampai jam 2 pagi. Langsung saja Ardilla bergegas pulang lebih awal dari teman-temannya yang lain.
“Di.. kamu udahan belum tugasnya? Udah tengah malam ternyata, kita pulang yuuk??” kata Ardilla.
“Oh iya yaa.. aku juga ga sadar, asik banget soalnya. Ayook kita pulaang”, tanggap Adi sambil bergegas mengemasi laptop dan lain-lain. “Eh…brot, gue duluan cabut yah, udah pagi nih kasian cewe gue udah ngantuk banget” sambungnya pada teman-temannya.
“Oh iya Di.. duluan aja. Langsung pulang lo, jangan bawa muter kemana-mana dulu!!” jawab temannya dengan gaya sok melindungi Ardilla.
“Iyee..iyeeh..!!”, jawab Adi. “Yok sayang, pulaang..” Adi merangkul Ardilla untuk pulang.
“Tapi Di, aku laper. Kamu mau makan dulu ga sebelum kita pulang?” jawab Ardilla sambil memegang perutnya yang begitu kelaparan. Maklum cewe ini jarang sekali makan katanya sih malas makan, tapi sekalinya lapar dan minta makan porsi makannya pun gak kalah banyak sama kuli bangunan yang 3 hari gak makan. (heheee.. yang ini gue lebay).
“Kamu mau makan dulu? Makan dimana sayang, udah malam begini kamu mau cari makan dimana?”, jawab Adi setengah kebingungan.
“Gimana kalo kita makan di warkop aja? Tempat langganan kamu, aku pengen banget makan mie rebus yang”, jawab Ardilla begitu yakin.
Memang kalau tempat makan normal bagi seorang cewe untuk tengah malam begini sudah tutup semua (Maksudnya tempat makan warnas, warteg, café disekitar kampus yang normalnya lebih sering dijumpai makhluk bernama wanita), makanya Adi bilang sudah tidak ada. Tapi, kalau warkop memang selalu pasti aja ada. Dan Adi memang suka nongkrong disana bersama teman-teman kelasnya atau sama senior-seniornya.
“Oh gitu. Yakin??.... yaudah yuuuk” Jawab Adi, setelah mendapat respon anggukkan dari pacar kesayangannya itu.
Akhirnya, pada malam itu setelah mereka selesai mengerjakan tugasnya merka jadi pergi makan disebuah warkop langgangannya. Namun, pada awalnya saat mendekati tempat itu, Adi sempat melanjutkan laju motornya untuk terus pulang.
“Sayang..kita pulang aja ya, udah malam ga enak cewe makan tengah malam di warkop”, kata Adi terus melesat melewati warkop itu.
“Adiiii… gak mauuu. Aku laper banget Di. Bisa Matii..”
“Diii..Dii.. ayok balik lagi, aku udah pengen banget makan mie rebus”, rengek Ardilla dengan sedikit memaksa.
“Arghhh.. banyak orang la….. [………….]. Yaudah, yaudah.. warkop di depan itu aja ya. Males kalo balik lagi” tunjuk Adi ke Arah warkop yang lain.
“Engga Di, aku maunya tempat yang satunya lagi. Ayok Di balik.”, jawab Ardilla. Namun entah karena apa, Ardilla sangat ingin makan di tempat itu. Akhirnya pun Adi putar balik, lalu segera menuju warkop langganannya itu.
Sesampai disana, ternyata sedang ramai pembeli. Namun tidak satupun diantara mereka ada seorang wanita, kecuali Ardilla. Ardilla pun agak canggung (baca: malu) memasuki tempat tersebut, tetapi karena panggilan biologi yaitu rasa lapar yang teramat sangat, Ardilla seakan mati rasa akan hal itu. Akhirnya ia masuk memilih tempat dimana cuma dia dan Adi yang makan disana. Tapi tidak beberapa kemudian Ardilla mendengar sapaan untuk dirinya.
“Heyy.. Dilla,?” sapa seorang laki-laki yang memang dikenalnya. “Habis dari mana la?kok malam banget?”, kemudian tanyanya.
“Eh..bang..iya nih bang balik dari kampus habis ngerjain tugas. Di kontrakan lagi ga bisa internet-an bang.”, jawab Ardilla sedikit gugup.
“Bener ngerjain tugas? Adi, bener lo habis ngerjain tugas sama Ardilla? Jangan macem-macem, Dilla itu adik gue juga ya!”, sahutnya dengan pertanyaan dan ditambah dengan sedikit pernyataan, lagi-lagi orang itu bicara dengan nada sok melindungi atau hanya ingin terlihat lebih akrab dengan mereka terutama Ardilla.
“Iya bang..”, jawab Adi dusambung dengan senyuman setelahnya.
Setelah terlibat beberapa percakapan diantara mereka, mie rebus pesanan pun datang. Ardilla, tampaknya sangat senang setelah melihat mie yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mereka makan sangat lahap sekali. Sudah lapar sekali tampaknya.
Tidak lama kemudian, dari balik tembok yang membatasi antara Ardilla dan Adi dengan seniornya itu ternyata mereka mendengar banyak suara. Ardilla langsung saja berkomentar “waah.. ternyata mereka banyak dan itu semua kakak kelas aku, jadi gak enak nih Di”, katanya.
“Iya, gak apa-apa, udah kamu abisin cepet makannya.”, perintah Adi.
Semakin lama, semakin Ardilla berfikir bahwa mereka itu semua ternyata adalah teman-teman mantannya Ardilla, mantannya yang sudah pindah ke salah satu universitas negri yang juga cukup ternama di negri ini, yang cukup merangsang Ardilla untuk bercerita cukup banyak kepada Adi. “Adi, mereka itu semua kok kayanya temen-temennya Brian semua ya, jangan-jangan disana ada Brian lagi. Aduh mana aku cerita-cerita tentang dia lagi sama kamu Di. Mereka denger gak ya?”, Ardilla mulai rusuh saat itu.
Tidak lama setelah itu, seniornya itu selesai makan dan segera meninggalkan tempat itu. Sempat sebelum pergi meninggalkan tempat itu, mereka menyapa Ardilla kembali dan pamitan untuk balik duluan. Tak disangka-sangka, saat Ardilla menoleh ke belakang memang disana ada Brian, dan mereka juga saling sapa.
Ardilla langsung saja shock, karena ini semua kebetulan yang tidak disangka-disangka. Dimulai saat berangkat kekampus ia mengenakan sebuah syal pemberian seseorang, ya itu.. itu adalah syal pemberian Brian, saat mereka bermaksud untuk membatalkan makan disana, tapi entah karena apa mereka kembali ke tempat itu dan makan disana, dan di tempat itu juga Ardilla dengan tidak sengaja sangat terbuka sekali kepada Adi bercerita tentang Brian, dan tidak disangka-sangka memang orang itu sedang berada ditempat yang sama setelah sekian lama mereka tidak bertemu dan Brian pun sudah pindah ke Universitas lain beda kota. Ini memang sebuah kebetulann.
Mungkin tidak ada yang special dari sebuah cerita kebetulan Ardilla ini, tapi ini sebuah firasat dan kejadian yang sangat kebetulan sekali dan tak terduga-duga. Bahkan hal inipun bisa terjadi kepada siapapun. Bagi yang mendengarkan ataupun yang memebaca ini kisah biasa saja, tapi bagi yang mengalami dan bahkan ini terjadi diantara mereka yang memang memiliki ikatan atau dulunya memiliki sebuah ikatan yang mungkin berarti atau pernah berarti buat mereka, maka kejadian ini mungkin saja menjadi special buat yang merasakannya.
====================================================================================
[[Sekali lagi, jangan pernah bosan membaca blog ini, karena disini bisa saja ditulis kisah apa saja, dari yang paling gak penting menurut pembaca semua sampai kisah yang begitu penting bagi penulis ataupun menjadi sangat berarti bagi kalian semua yang membaca. Dari tulisan ini saya berlatih menulis, dan belajar untuk lebih baik lagi dari komentar dan saran-saran untuk membangun tulisan saya menjadi lebih bernyawa dan menarik untuk di baca. Trimakasih untuk semua yang telah membaca, ataupun bahkan meninggalkan sedikit komentarnya yang bisa memberi semangat untuk penulis agar terus berlatih menulis.]]
====================================================================================

Rabu, 07 Desember 2011

Dinamika Ardilla dan Adi..

Dinamika Ardilla dan Adi..
by: Olla (071211. 10.50pm)
Hallo...semua, kali ini Ardilla tidak akan menceritakan tentang apa yang ia lakukan sehari ini, tapi sedikit bercerita tentang apa yang dia rasakan. Ardilla sama seperti perempuan lainnya, meskipun kesehariannya ia adalah seorang yang sangat keras dan cuek, tapi ternyata dia juga bisa menjadi sangat sensitive dan susah untuk tidak menghiraukan apa yang terjadi disekelilingnya. Malam ini Ardilla, merasakan prilaku yang berbeda dari Adi pacarnya. Ardilla merasa pacarnya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak begitu menghiraukan dirinya. Padahal memang Adi, pacarnya saat itu sedang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik yang sedang ia tekuni, bahkan tak juga jarang ia menceritakan semuanya kepada Ardilla. Namun, Ardilla tetaplah seorang perempuan yang kadangkala dari semua hal yang sebenarnya bisa ia mengerti dengan sebenar-benarnya dikepalanya, tapi perasaannya selalu mendominasi segalanya. Sensitive memang, hatinya tidak dapat menerima kalau kenyataanya Adi itu memang disibukan oleh semua kegiatannya dan menganggap sikap Adi sangat berubah kepadanya. Terkadang Ardilla lebih sering mengiyakan apa yang dia rasakan tentang Adi ketimbang apa yang ia pikirkan tentang Adi. Terkadang ia berpikir wajar saja Adi lebih suka memiliki banyak waktu dikampus dengan teman-temannya sehingga intensitas waktu mereka untuk bertemu menjadi berkurang, meski Adi dan teman-temannya itu memang sedang melakukan suatu hal yang sangat penting. Ya itulah perasaan sensitifnya sering tiba-tiba muncul dan ia merasa tidak terima kalau ia menjadi terabaikan oleh Adi.
Tidak tahulah apa yang ada dipikirannya, apa ia tidak pernah tahu betapa baiknya Adi kepadanya? Apakah ia tidak menyadari betapa Adi meluangkan sekian waktunya untuk bisa bersama Ardilla, meski ditengah kesibukan, kepenatannya dari semua aktivitas yang ia lakukan dikampus? Bahkan tak jarang Adi, ditengah dan disela kesibukannya ia lari sejenak untuk menemui Ardilla, ya katanya “sayang, aku lagi pusing dengan semua yang aku hadapi dikampus sekarang. Aku kesini ingin bertemu kamu karena kalo aku ketemu sama kamu kadang bisa bikin pikiran aku lebih baik”.
Ardilla sebenarnya adalah perempuan yang mudah luluh, betapa senangnya ia mendengar kalimat itu diucapkan oleh pacarnya. Ketika baiknya suasana hatinya Ardilla bisa mengatakan kalimat yang bisa membuat Adi menjadi lebih tenang “iya sayang, aku ngerti dengan semua kesibukan kamu. Kamu harus tetap semangat ya, aku yakin jagoanku pasti bisa melewati ini semua”. Bagi Adi kalimat itu bisa seperti oase ditengah gurun jika diumpakan. Orang lain mungkin dengan mudah berkata, mereka terlalu lebay dalam mengungkapkan perasaannya, tapi memang itulah yang benar ia rasakan.
Namun, ketiga sifat egois Ardilla muncul lagi, meski Adi melakukan banyak pengorbanan untuknya, selalu menemuinya disaat Adi banyak kesibukan, selalu bisa membagi perhatiannya untuk Ardilla. Seakan-akan semua itu tidak berarti untuknya, meski sebenarnya ia tahu itu aadalah bentuk pengorbanan yang dilakukan oleh pacarnya itu. Terlalu berlebihan, kadang ia tidak bisa terima ketika waktu Adi lebih banyak tercurahkan untuk semua aktivitasnya meski disela itu selalu bisa menyempatkan untuknya. Ia berubah menjadi sangat sensitive dan kalap. Ardilla, dengan segala kebutaannya bisa marah hanya masalah waktu Adi sedikit terbagi untuknya. Itulah Ardilla. Tapi, dibalik keras hatinya itu, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi Adi, pikirnya.
Lain cerita dengan Adi. Mungkin Adi berpikir, bahwa Ardilla terlalu keras hatinya dan sangat egois. Wajar saja, karena memang Ardilla lebih suka memperlihatkan sikap kerasnya dan ngambek sama Adi ketimbang ia harus mengatakan “Aku sebenarnya, sangat membutuhkan kamu. Bahkan aku tidak bisa hilang dari kamu meskipun aku tahu kamu ada dimana. Aku hanya ingin kamu slalu ada didekatku”. Begitu tinggi gengsinya. Mungkin Adi tidak pernah mengetahui, ketika Ardilla menjadi lebih sensitif disaat ia memiliki sedikit waktu bersama, Ardilla hanya ingin mendapatka respon dari Adi dan menunjukkan betapa sebenarnya Adi tidak pernah melupakannya sedikitpun. Tapi itulah sempurnanya Adi, meski mungkin ia tidak pernah tahu itu ia selalu bisa membaca pikiran Ardilla. Ia tidak pernah marah atau meninggalkan Ardilla, bahkan ia tidak rela meninggalkan Ardilla dalam keadaan seperti itu sampai Ardilla bersikap baik (tidak marah seperti biasanya) lagi kepadanya. Disaat itu, sebenarnya Ardilla sudah percaya ternyata memang Adi tidak pernah berniat meninggalkannya bahkan untuk melupakannya. Adi memiliki respon yang sangat baik padanya.
Adi, adalah seorang yang sangat baik. semoga Ardilla bisa menyadari hal itu. Semoga Ardilla bisa berubah menjadi seorang yang lebih sabar dan tidak mudah marah. Karena sampai kapanpun Adi akan sangat menyayanginya dan bersikap baik padanya, sehingga Ardilla menjadi benar-benar pantas untuk Adi, dan demikian juga dengan Adi. Smogaa.. J

Senin, 05 Desember 2011

Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !


Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah, lemayaan !
By: Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)

Masih inget sama cerita di blog sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar?? Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung. Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep segala lah. It’s OKAY, tetap positive thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin *Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla, marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu, itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya. Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak  Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing, Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini, Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit  uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri, lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan dengan sedikit pernyataan yang agak lebay juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la, dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi wajah dan nada bicara Syakira juga mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih, almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah, sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung. Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”, Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg dooong..!! hahahaaa J ” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby  ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit, seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”, celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya, saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take video.
Saat itu, mereka hanya disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya. Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu “pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di depan kamera.
“Sampe berapa kali nih kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada salahnya mereka untuk mencoba casting suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara, karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan, sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang pratikum, Ardilla menerima sms lagi dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla, mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil. Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya. Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli sendiri. J
Dan satu hal, yang membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus, teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun, Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti.  J