Diantara
sekian banyak kisahnya tentang kisah percintaan, persahabatanya, kesehariannya.
Disini juga akan di kisahkan bagaimana mimpi Ardilla yang sangat besar untuk
pendidikan dan masa depannya ataupun tentang personalnya. Ardilla merupakan
anak pertama dan anak perempuan satu-satunya dari tiga orang bersaudara. Ardilla
adalah perempuan yang sangat tegar, mandiri dan sangat dewasa dikeluarganya
terlebih semanjak ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu tepat sebelum ia
memasuki bangku kuliah. Walaupun di depan Adi dia lebih sering bersikap seperti
anak kecil 5 tahun, tapi inilah Ardilla sebenarnya di lingkungan keluarganya.
Ardilla
terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga ia pun tumbuh dengan
kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Semasa hidup ayahnya, Ardilla
sangatlah disayangi oleh ayahnya. Begitupun juga dengan Ardilla, karena ia
sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dahulu Ardilla sebenarnya manja dengan
ayahnya, tapi setelah ayahnya tiada ternyata Ardilla bisa bersikap lebih dewasa
dikeluarga karena memang dahulu kemanjaannya itu hanya kepada ayahnya saja.
Tapi mungkin sekarang ia merasa Adi (pacarnya) juga bisa menjadi pengganti
ayahnya, entah karena apa Ardilla terkadang menjadi sangat manja kepada Adi dibanding
dengan teman dekat yang dulu penah dikenalnya, ia sangatlah cuek.
Satu
kebahagiaan terakhir yang tidak akan pernah Ardilla lupakan sebelum ia tidak
akan pernah melihat ayahnya untuk selamanya, yaitu ketika ia lulus SMA Ardilla
diterima tanpa tes disebuah Perguruan Tinggi Negri ternama di negri ini. Kala
itu, ayah Ardilla sangatlah bahagia sekali menerima kabar tersebut.
Sampai-sampai copy-an surat undangan
penerimaan mahasiswa baru itu, dibawanya kemana-mana untuk ditunjukkannya
kepada teman-temannya. Begitu senang dan bangganya ia kepada anak perempuan
satu-satunya itu. Dan waktu itu, ayah Ardilla pun bertekad untuk mengantarkan
anaknya yang akan kuliah ke seberang pulau sampai ia benar yakin anaknya akan
selamat, aman, dan merasa sangat nyaman untuk melanjutkan pendidikannya disana.
Namun,
saat itu takdir Tuhan berkata lain. Sebulan sebelum keberangkatan Ardilla ke
Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikannya, kedua orang tuanya mendapat musibah
kecalakaan. Ayah Ardilla mendapat luka yang sangat parah sampai ayahnya harus
dirujuk ke rumah sakit di luar kota, karena tidak sanggup menangani luka
ayahnya yang sangat parah. Suatu peristiwa yang tidak dapat ditolak dan takdir
memang harus terjadi. Ayah ardilla akhirnya menemui usia akhirnya setelah
sampai di rumah sakit rujukan dan sempat menerima beberapa perlakuan dari
dokter untuk menolong ayahnya.
Saat
itu, Ardilla ingin mengis sangat keras sekali dan berteriak, “Tuhaaaaaanku..
tolong jangan ambil ayahku sekarang…”. Tapi Ardilla tidak dapat melakukannya,
karena bagaimana mungkin ia memperlihatkan kesedihannya yang begitu dalam
disamping ia harus menenangkan kedua adiknya dan membuat ibunya bisa semakin
tabah dan kuat yang juga mengalami kecelakaan tersebut. Pada saat itu Ardilla,
berusaha menahan semua kesedihannya di depan semua orang.
Kesedihan
tidak boleh berlarut begitu lama, meskipun kenangan tentang ayahnya selalu
abadi untuknya, ibunya dan adik-adiknya. Karena itulah, yang membuat semangat
Ardilla semakin memuncak untuk melanjutkan ke PTN yang menerimanya tanpa tes.
Karena ia sangat yakin bahwa ayahnya pasti sangat menginginkan hal itu terjadi.
Meskipun pada awalnya, Ardilla hanya ingin kuliah dekat dengan kota
kelahirannya dan juga ibunya mulai menentang keinginannya itu, karena ibunya
yang masih sangat dalam merasakan kehilangannya setelah ayah Ardilla meninggal
dan ditambah lagi Ardilla akan meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama
dan jarak yang sangat jauh baginya.
Karena
ayahnya, karena ibunya dan adik-adiknya itulah Ardilla tidak henti mengejar
mimpi-mimpinya walaupun iya harus meninggalkan rumah dengan waktu yang lama dan
jarak yang sangat jauh dari orang tuanya. Ardilla pergi meninggalkan rumahnya
untuk melanjutkan pendidikannya sebulan setelah ayahnya wafat, dan suasana duka
masih lekat pada dirinya dan keluarganya. Tapi apa boleh buat, Ardilla memang
harus berangkat pada saat itu juga untuk daftar ulang masuk PTN. Saat itu,
Ardilla memampukan dirinya untuk bisa
mengantarkan diri sampai di Bogor, Jawa Barat tanpa ditemani oleh ibunya.
Meskipun kesedihan kerap menghampiri dirinya, ketika hari pertama penerimaan ia
melihat begitu banyak teman-teman barunya dan mereka kebanyakan diantarkan oleh
keluarga atau paling tidak ditemani oleh ayah atau ibu saja. Tapi tidak dengan
Ardilla, dia harus bisa menelan bulat-bulat kenyataan yang ada dihadapannya.
Bahwa ia pasti bisa melewati semuanya sendiri, dan dilangkah kaki pertamanya
dengan doa dan tekad sebisa mungkin ia tidak ingin lagi merepotkan orang
tuanya, kabar baiklah yang akan selalu ia kirimkan pulang.
Sekarang
Ardilla menjalani kehidupannya di kota baru dan kehidupan baru jauh dari kota
kelahirannya dan tentu saja jauh dari keluarganya. Kenyataan hiduplah yang
semakin membuat semangatnya selalu menyala untuk bisa bertahan jauh dari
keluarga. Sehingga nantinya pun Ardilla benar bisa membahagiakan orang tua dan
seluruh keluarga besarnya dengan semua mimpi yang akan dikejarnya.
Pada
tahun kdeua Ardilla sempat mengambil masa cuti kuliah karena sakit dan dua kali
operasi sehingga ia perlu mengambil masa istirahat untuk memulihkan kondisinya.
Meskipun ia tertinggal dari teman-teman seangkatannya, hal ini tidak membuat ia
patah semangat untuk terus maju. Satu hal, yang sangat Ardilla inginkan adalah,
membahagiakan ibunya, orang tua satu-satunya yang dia miliki sekarang. Sehingga
ketika sudah lulus dan bekerja mapan ia ingin membantu meringankan beban ibunya
membesarkan adik-adiknya dan membawa ibu selalu bersamanya sampai ia tua nanti,
ia harus bersama-sama ibunya meskipun sudah berkeluarga dan bisa merawat ibunya
dihari tua nanti.Semoga.
[By : Olla, 9
Jan 2012/20 Jan 2012, 0:30am-2:55 am]
Malam itu, Ardilla dan Adi
memiliki sedikit waktu lebih banyak untuk berleha-leha, tanpa kesibukan ekstra-kampus (baca:
kegiatan organisasi) seperti biasanya. Namun mereka masih saja harus mengerjakan
beribu tugas kampus yang tidak henti-hentinya. Maklum saja, karena hal ini
pasti dialami oleh semua mahasiswa aktif dikampusnya. Pada malam itu, Ardilla tidak
bisa mengakses internet di rumah kontrakannya, karena sedang ada
gangguan. Jadi, ia mengajak Adi untuk internet-an dikampus saja.
Tak seperti biasanya, malam itu
Ardilla siap-siap ke kampus mengenakan sebuah syal. Biasanya cukup dengan setelan kaos, sweater, jilbab, dan celana jins. Hanya pada malam itu, dia memilih
untuk mengenakan sebuah syal yang pernah diberikan oleh seseorang kepadanya
diantara syal-syalnya yang lain. Entah dengan firasat apa, Ardilla jadi
berangkat ke kampus bersama Adi pacarnya. Malam itu, ia pergi ke spot internet
kampus dimana mereka biasa browsing internet
disana dan juga ramai sekali teman-teman Adi yang mereka temui. Jadi, ngenet dikampus pun gak kalah ramai jika
dibandingkan dengan ngenet di warnet,
gratiss lagi.
Maklum
kampus mereka memang sudah terkenal dengan kesibukan mahasiswanya di kampus
siang dan malam, meskipun itu hari libur sekalipun. Ada-ada saja kegiatan yang
dapat mereka lakukan. Jika siang hari merka sangat padat dengan kegiatan
perkuliahan, maka malamnya adalah waktu penuh tercurah untuk tugas kuliah
ataupun kegiatan organisasi yang menuntut komitmen yang tinggi bagi mereka yang
mengikuti. Alhasil, kampus ini selalu bernyawa dengan aktifitas mahasiswanya
yang tiada henti.
Balik
lagi, ke cerita Ardilla dan Adi yang malam itu ngenet dikampus untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing.
Sampai pada akhirnya, mereka tidak sadar bahwa mereka telah berada dikampus
sampai jam 2 pagi. Langsung saja Ardilla bergegas pulang lebih awal dari
teman-temannya yang lain.
“Di.. kamu
udahan belum tugasnya? Udah tengah malam ternyata, kita pulang yuuk??” kata
Ardilla.
“Oh iya
yaa.. aku juga ga sadar, asik banget soalnya. Ayook kita pulaang”, tanggap Adi
sambil bergegas mengemasi laptop dan lain-lain. “Eh…brot, gue duluan cabut yah,
udah pagi nih kasian cewe gue udah ngantuk banget” sambungnya pada
teman-temannya.
“Oh iya
Di.. duluan aja. Langsung pulang lo, jangan bawa muter kemana-mana dulu!!”
jawab temannya dengan gaya sok melindungi Ardilla.
“Iyee..iyeeh..!!”,
jawab Adi. “Yok sayang, pulaang..” Adi merangkul Ardilla untuk pulang.
“Tapi Di,
aku laper. Kamu mau makan dulu ga sebelum kita pulang?” jawab Ardilla sambil
memegang perutnya yang begitu kelaparan. Maklum cewe ini jarang sekali makan
katanya sih malas makan, tapi sekalinya lapar dan minta makan porsi makannya
pun gak kalah banyak sama kuli bangunan yang 3 hari gak makan. (heheee.. yang
ini gue lebay).
“Kamu mau
makan dulu? Makan dimana sayang, udah malam begini kamu mau cari makan
dimana?”, jawab Adi setengah kebingungan.
“Gimana
kalo kita makan di warkop aja? Tempat langganan kamu, aku pengen banget makan
mie rebus yang”, jawab Ardilla begitu yakin.
“Oh gitu.
Yakin??.... yaudah yuuuk” Jawab Adi, setelah mendapat respon anggukkan dari
pacar kesayangannya itu.
Akhirnya,
pada malam itu setelah mereka selesai mengerjakan tugasnya merka jadi pergi
makan disebuah warkop langgangannya. Namun, pada awalnya saat mendekati tempat
itu, Adi sempat melanjutkan laju motornya untuk terus pulang.
“Sayang..kita
pulang aja ya, udah malam ga enak cewe makan tengah malam di warkop”, kata Adi
terus melesat melewati warkop itu.
“Adiiii…
gak mauuu. Aku laper banget Di. Bisa Matii..”
“Diii..Dii..
ayok balik lagi, aku udah pengen banget makan mie rebus”, rengek Ardilla dengan
sedikit memaksa.
“Arghhh..
banyak orang la….. [………….]. Yaudah, yaudah.. warkop di depan itu aja ya. Males
kalo balik lagi” tunjuk Adi ke Arah warkop yang lain.
“Engga Di,
aku maunya tempat yang satunya lagi. Ayok Di balik.”, jawab Ardilla. Namun
entah karena apa, Ardilla sangat ingin makan di tempat itu. Akhirnya pun Adi
putar balik, lalu segera menuju warkop langganannya itu.
Sesampai
disana, ternyata sedang ramai pembeli. Namun tidak satupun diantara mereka ada
seorang wanita, kecuali Ardilla. Ardilla pun agak canggung (baca: malu)
memasuki tempat tersebut, tetapi karena panggilan biologi yaitu rasa lapar yang
teramat sangat, Ardilla seakan mati rasa akan hal itu. Akhirnya ia masuk
memilih tempat dimana cuma dia dan Adi yang makan disana. Tapi tidak beberapa
kemudian Ardilla mendengar sapaan untuk dirinya.
“Heyy..
Dilla,?” sapa seorang laki-laki yang memang dikenalnya. “Habis dari mana la?kok
malam banget?”, kemudian tanyanya.
“Eh..bang..iya
nih bang balik dari kampus habis ngerjain tugas. Di kontrakan lagi ga bisa
internet-an bang.”, jawab Ardilla sedikit gugup.
“Bener
ngerjain tugas? Adi, bener lo habis ngerjain tugas sama Ardilla? Jangan
macem-macem, Dilla itu adik gue juga ya!”, sahutnya dengan pertanyaan dan
ditambah dengan sedikit pernyataan, lagi-lagi orang itu bicara dengan nada sok
melindungi atau hanya ingin terlihat lebih akrab dengan mereka terutama
Ardilla.
“Iya
bang..”, jawab Adi dusambung dengan senyuman setelahnya.
Setelah terlibat
beberapa percakapan diantara mereka, mie rebus pesanan pun datang. Ardilla,
tampaknya sangat senang setelah melihat mie yang ia tunggu-tunggu akhirnya
datang juga. Mereka makan sangat lahap sekali. Sudah lapar sekali tampaknya.
Tidak lama
kemudian, dari balik tembok yang membatasi antara Ardilla dan Adi dengan
seniornya itu ternyata mereka mendengar banyak suara. Ardilla langsung saja
berkomentar “waah.. ternyata mereka banyak dan itu semua kakak kelas aku, jadi
gak enak nih Di”, katanya.
“Iya, gak
apa-apa, udah kamu abisin cepet makannya.”, perintah Adi.
Semakin
lama, semakin Ardilla berfikir bahwa mereka itu semua ternyata adalah
teman-teman mantannya Ardilla, mantannya yang sudah pindah ke salah satu
universitas negri yang juga cukup ternama di negri ini, yang cukup merangsang
Ardilla untuk bercerita cukup banyak kepada Adi. “Adi, mereka itu semua kok
kayanya temen-temennya Brian semua ya, jangan-jangan disana ada Brian lagi.
Aduh mana aku cerita-cerita tentang dia lagi sama kamu Di. Mereka denger gak
ya?”, Ardilla mulai rusuh saat itu.
Tidak lama
setelah itu, seniornya itu selesai makan dan segera meninggalkan tempat itu.
Sempat sebelum pergi meninggalkan tempat itu, mereka menyapa Ardilla kembali
dan pamitan untuk balik duluan. Tak disangka-sangka, saat Ardilla menoleh ke
belakang memang disana ada Brian, dan mereka juga saling sapa.
Ardilla
langsung saja shock, karena ini semua
kebetulan yang tidak disangka-disangka. Dimulai saat berangkat kekampus ia
mengenakan sebuah syal pemberian seseorang, ya itu.. itu adalah syal pemberian
Brian, saat mereka bermaksud untuk membatalkan makan disana, tapi entah karena
apa mereka kembali ke tempat itu dan makan disana, dan di tempat itu juga
Ardilla dengan tidak sengaja sangat terbuka sekali kepada Adi bercerita tentang
Brian, dan tidak disangka-sangka memang orang itu sedang berada ditempat yang
sama setelah sekian lama mereka tidak bertemu dan Brian pun sudah pindah ke
Universitas lain beda kota. Ini memang sebuah kebetulann.
Mungkin tidak ada yang special dari
sebuah cerita kebetulan Ardilla ini, tapi ini sebuah firasat dan kejadian yang
sangat kebetulan sekali dan tak terduga-duga. Bahkan hal inipun bisa terjadi
kepada siapapun. Bagi yang mendengarkan ataupun yang memebaca ini kisah biasa
saja, tapi bagi yang mengalami dan bahkan ini terjadi diantara mereka yang
memang memiliki ikatan atau dulunya memiliki sebuah ikatan yang mungkin berarti
atau pernah berarti buat mereka, maka kejadian ini mungkin saja menjadi special
buat yang merasakannya.
[[Sekali lagi, jangan pernah bosan
membaca blog ini, karena disini bisa saja ditulis kisah apa saja, dari yang paling
gak penting menurut pembaca semua sampai kisah yang begitu penting bagi penulis
ataupun menjadi sangat berarti bagi kalian semua yang membaca. Dari tulisan ini
saya berlatih menulis, dan belajar untuk lebih baik lagi dari komentar dan
saran-saran untuk membangun tulisan saya menjadi lebih bernyawa dan menarik
untuk di baca. Trimakasih untuk semua yang telah membaca, ataupun bahkan
meninggalkan sedikit komentarnya yang bisa memberi semangat untuk penulis agar
terus berlatih menulis.]]
Hallo...semua, kali ini Ardilla tidak akan
menceritakan tentang apa yang ia lakukan sehari ini, tapi sedikit bercerita
tentang apa yang dia rasakan. Ardilla sama seperti perempuan lainnya, meskipun
kesehariannya ia adalah seorang yang sangat keras dan cuek, tapi ternyata dia
juga bisa menjadi sangat sensitive dan susah untuk tidak menghiraukan apa yang
terjadi disekelilingnya. Malam ini Ardilla, merasakan prilaku yang berbeda dari
Adi pacarnya. Ardilla merasa pacarnya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan
tidak begitu menghiraukan dirinya. Padahal memang Adi, pacarnya saat itu sedang
disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik yang sedang ia
tekuni, bahkan tak juga jarang ia menceritakan semuanya kepada Ardilla. Namun,
Ardilla tetaplah seorang perempuan yang kadangkala dari semua hal yang
sebenarnya bisa ia mengerti dengan sebenar-benarnya dikepalanya, tapi
perasaannya selalu mendominasi segalanya. Sensitive memang, hatinya tidak dapat
menerima kalau kenyataanya Adi itu memang disibukan oleh semua kegiatannya dan
menganggap sikap Adi sangat berubah kepadanya. Terkadang Ardilla lebih sering
mengiyakan apa yang dia rasakan tentang Adi ketimbang apa yang ia pikirkan
tentang Adi. Terkadang ia berpikir wajar saja Adi lebih suka memiliki banyak
waktu dikampus dengan teman-temannya sehingga intensitas waktu mereka untuk
bertemu menjadi berkurang, meski Adi dan teman-temannya itu memang sedang
melakukan suatu hal yang sangat penting. Ya itulah perasaan sensitifnya sering
tiba-tiba muncul dan ia merasa tidak terima kalau ia menjadi terabaikan oleh
Adi.
Tidak tahulah apa yang ada dipikirannya, apa ia
tidak pernah tahu betapa baiknya Adi kepadanya? Apakah ia tidak menyadari betapa
Adi meluangkan sekian waktunya untuk bisa bersama Ardilla, meski ditengah
kesibukan, kepenatannya dari semua aktivitas yang ia lakukan dikampus? Bahkan tak
jarang Adi, ditengah dan disela kesibukannya ia lari sejenak untuk menemui
Ardilla, ya katanya “sayang, aku lagi pusing dengan semua yang aku hadapi
dikampus sekarang. Aku kesini ingin bertemu kamu karena kalo aku ketemu sama
kamu kadang bisa bikin pikiran aku lebih baik”.
Ardilla sebenarnya adalah perempuan yang mudah
luluh, betapa senangnya ia mendengar kalimat itu diucapkan oleh pacarnya. Ketika
baiknya suasana hatinya Ardilla bisa mengatakan kalimat yang bisa membuat Adi
menjadi lebih tenang “iya sayang, aku ngerti dengan semua kesibukan kamu. Kamu harus
tetap semangat ya, aku yakin jagoanku pasti bisa melewati ini semua”. Bagi Adi
kalimat itu bisa seperti oase ditengah gurun jika diumpakan. Orang lain mungkin
dengan mudah berkata, mereka terlalu lebay dalam mengungkapkan perasaannya,
tapi memang itulah yang benar ia rasakan.
Namun, ketiga sifat egois Ardilla muncul lagi,
meski Adi melakukan banyak pengorbanan untuknya, selalu menemuinya disaat Adi
banyak kesibukan, selalu bisa membagi perhatiannya untuk Ardilla. Seakan-akan
semua itu tidak berarti untuknya, meski sebenarnya ia tahu itu aadalah bentuk
pengorbanan yang dilakukan oleh pacarnya itu. Terlalu berlebihan, kadang ia
tidak bisa terima ketika waktu Adi lebih banyak tercurahkan untuk semua
aktivitasnya meski disela itu selalu bisa menyempatkan untuknya. Ia berubah
menjadi sangat sensitive dan kalap. Ardilla, dengan segala kebutaannya bisa
marah hanya masalah waktu Adi sedikit terbagi untuknya. Itulah Ardilla. Tapi,
dibalik keras hatinya itu, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia sangat
menyayangi Adi, pikirnya.
Lain cerita dengan Adi. Mungkin Adi berpikir,
bahwa Ardilla terlalu keras hatinya dan sangat egois. Wajar saja, karena memang
Ardilla lebih suka memperlihatkan sikap kerasnya dan ngambek sama Adi ketimbang
ia harus mengatakan “Aku sebenarnya, sangat membutuhkan kamu. Bahkan aku tidak
bisa hilang dari kamu meskipun aku tahu kamu ada dimana. Aku hanya ingin kamu
slalu ada didekatku”. Begitu tinggi gengsinya. Mungkin Adi tidak pernah
mengetahui, ketika Ardilla menjadi lebih sensitif disaat ia memiliki sedikit
waktu bersama, Ardilla hanya ingin mendapatka respon dari Adi dan menunjukkan
betapa sebenarnya Adi tidak pernah melupakannya sedikitpun. Tapi itulah
sempurnanya Adi, meski mungkin ia tidak pernah tahu itu ia selalu bisa membaca
pikiran Ardilla. Ia tidak pernah marah atau meninggalkan Ardilla, bahkan ia
tidak rela meninggalkan Ardilla dalam keadaan seperti itu sampai Ardilla
bersikap baik (tidak marah seperti biasanya) lagi kepadanya. Disaat itu,
sebenarnya Ardilla sudah percaya ternyata memang Adi tidak pernah berniat
meninggalkannya bahkan untuk melupakannya. Adi memiliki respon yang sangat baik
padanya.
Adi, adalah seorang yang sangat baik. semoga
Ardilla bisa menyadari hal itu. Semoga Ardilla bisa berubah menjadi seorang
yang lebih sabar dan tidak mudah marah. Karena sampai kapanpun Adi akan sangat
menyayanginya dan bersikap baik padanya, sehingga Ardilla menjadi benar-benar
pantas untuk Adi, dan demikian juga dengan Adi. Smogaa.. J
Manajemen Artis Ecek yang Membawa BErkah,
lemayaan !
By:
Olla (051211. 12.01pm- 061211 11.30 am)
Masih inget sama cerita di blog
sebelumnya kan, soal rezeki memang tak berpintu. Ada bagian yang menceritakan
kalo Ardilla mendapat sebagaian rezekinya dari sebuah tawaran syuting Profil
Kampusnya. Ardilla mendapatkan tawaran itu dari seorang kenalannya yang bekerja
di Humas Kampusnya. Sore, tiga hari sebelumnya saat Ardilla sedang berada
dikosan temannya, dia menerima telepon dari kenalannya tersebut, sebut saja
Bung Kus.
“Hallo..Di.. Dilla kkkamu appa kkabbar??
Rrabu ada kuliah gakk?” Tanya orang ditelepon seberang, yang tak lain dan tak
bukan adalah si Beng itu.
Agak surprised
juga Ardilla mengangkat teleponnya, karena orang yang berbicara agak kesulitan
berbicara seperti abis lari ribuan kilometer jaraknya, agak seperti ajis gagap
tetapi lebih parah ajis sih. *Ups..ga bermaksud lain hanya ingin
mendeskripsikannya saja, hehee J. “Yaa.. maaf ini siapa ya?? Ada
keperluan apa?” dengan nada sok penting dan setengah keheranan Ardilla
mengangkat telepon itu, karena ia merasa tidak mengenal telepon itu.
“Iini saya, Bungg Kkus yang dari Hhumass
Kampus. Kkamu kamu ingatkan??” jawabnya..
“hmmmm..??” agak sedikit memutar otaknya
mengutak atik seluruh memori yang ada tentang orang itu. “Ooooohh… ya, Mas Bung.
Iya, ada apa mas emangnya??”
“Rab Rabbu kamu adda kuliah gak? Kamu
dimmanaa sekkarangg”.. tanyanya.
“Iya, emang kenapa mas? Sekarang aku lagi
dikosan temen nih. Ada apa ya??” Tanya Ardilla dengan penasaran.
“Kuliahh jjam bberappa aj kamu la? Aku
mau ajakin syuting. Eh dissekkitar kkamu lagi ada cewe cantikk dan cowo cakep gga?sekalian
ajja ajjakkin??” Aduuh feeling Ardilla sudah mulai gak enak waktu itu, ngapain
tiba-tiba orang itu ngajakin syuting dan nanyain temen-temennya yang cakep
segala lah. It’s OKAY, tetap positive
thinking.
“Emang syuting buat apa mas? Kenapa nyari
yang cakep? Kalo gitu aku gak ikutan dong?” tanyanya , mengintrogasi dengan
sedikit merasa sok enggak ke ge-eran dipertanyaan terakhirnya.
“Syuting buat profil kampus nih, kamu
cari dua temen cewe kamu lagi yang gak pake jilbab ya, cowo-nya dua orang
terserah asal cakep. Cowo kamu juga bisa diajakin tuh, lumyan dia cakep, iyalah
kamu ikutan ajaa….”, begitulah sahutnya, terlalu banyak maunya memang.
“Busyeeet.. banyak maunya ya, bilang cowo
gue lumyan lagi, kira-kira juga kali nih orang bilang cowo gue lumayan, apa gak
salah?ganteng banget kali”, begitu Ardilla ngedumel dalam hatinya.
“Oh gitu mas.. boleh nih aku ngajakin
*Adi?? Yaudah deh nanti aku usahain ya..”
*Oh ya.. “si pacar” yang
sering disebutkan di blog sebelumnya dan notabene-nya adalah pacar Ardilla,
marilah kita sebut saja namanyaa… ADI* J
Awalnya sih, Ardilla biasa
saja terhadap ajakan ini dia berniat hanya untuk ngebatuin Bung Kus itu,
itung-itung bisa nampang dikitlah di Video Profil kampusnya. Saat itu Ardilla
langsung kepikiran untuk mengajak Adi agar bisa ikut syuting bersamanya.
Sepulang dari kosan temennya itu, Ardilla langsung saja memberi tahu Adi agar
mau ikut syuting bersamanya. Namun, ajakan Ardilla ditolak oleh Adi karena nggak Pede kalo di depan kamera dan kebetulan juga
pada hari syuting itu dia ada jadwal pratikum yang tidak bisa ditinggalkan.
Tidak ambil pusing,
Ardilla mulai mengajak teman-temannya yang lain. Akhirnya, dia mengajak Dini,
Syakir dan Didit. Mereka semua adalah teman kelas Ardilla. Dini, cewe berdarah
padang, berambut panjang, kulit putih, dan memiliki wajah yang cantik. Didit
teman cowonya yang sudah sering kali ng-MC ya bisa dikatakanlah dia itu MC kondang
di seantero kampus ini jadi untuk urusan hal-hal seperti ini *tampil di depan
umum Diditlah jagonya. Dan terakhir Syakir cowo hitam manis berdarah Aceh yang
memiliki suara yang sangat bagus. Sebenarnya suaranya yang bagus tidak
berpengaruh banyak karena dalam pembuatan video ini, karena kita tidak ada
dialog-dialog tertentu apalagi disuruh bernyanyi, tetapi karena wajahnya yang
HITAM manis itu cukup mendukung dalam pembuatan video ini. heheee...
Sebelum ajakan Ardilla itu
diterima oleh ketiga orang temannya tersebut, tidak sedikit teman-teman yang
diajaknya menolak karena alasan malu. Pada akhirnya, Ardilla menerima sms dari
Bung Kus kalo syuting ini nanti akan ada sedikit
uang “jajan”. Membaca sms itu Ardilla menjadi lebih semangat untuk
mengajak teman-temannya. Meskipun ini sudah melenceng dari niat awal untuk
membantu, tapi mendengar satu kata “uang” cukup menjadi motivnya untuk ikut dan mengajak teman-temannya.
Tak cuma Ardilla tetapi
ternyata juga demikian dengan teman-temannya yang lain.
“Kir, gimana lo jadi mau
ikutan syuting itu ga?? Lo gak bales sms gue sih..” teriak Ardilla ketika ia
bertemu dengan Syakir dikampus tercintanya itu.
“Eh, sorry la.. tadi gue
masih tidur dan langsung berangkat kampus udah telat. Gue udah bales sms elu
kok. Emang itu syuting apa sih la??”, dengan ekspresi dan nada bicara yang
sangat biasa Syakir menanggapi pertanyaan Ardillla
“Iya, syuting buat profil
Kampus kir, katanya sih nanti dipake buat promosi Kampus ke luar negri,
lumyanlaah nambah-nambahin uang jajan… ” dengan ekspresi yang antusias dan
dengan sedikit pernyataan yang agak lebay
juga kalo didengar, tetapi itulah kenyataannya yang disampaikan oleh si Bungkus tempo hari.
“Haaaah… seriusan lu la,
dikasih DUIT? Mau dikirim keluar negri juga ya seriusan itu??”, kini ekspresi
wajah dan nada bicara Syakira juga
mulai berubah sangat antusias. “Gue kalo dengar kata Duit, mau deehh…” sambil
menaik-naikan kedua alis mataya yang menyatakan kalo dia serius mau ikut syuting
profil kampusnya itu. Tetapi dengan sedikit melupakan kata benda mengitkuti kata “uang” membuat syakira berimajinasi
samapai ke langit ketujuh. “jajan”. J
Sekarang, setidaknya
Ardilla sudah sedikit aman karena tiga orang temannya sudah menyatakan untuk
mau ikut syuting tersebut. Meski kurang satu orang cewe, sepertinya tidak
terlalu masalah. Syuting itu dilakukan siang itu jam satu siang.
****
Siangnya, mereka bertemu
ditempat yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya. Sambil menunggu
kedatangan tim produksi mereka mempersiapkan diri, mulai kostum yang rapih,
almamater kampus, dan make up yang setidaknya kalo kelihatan dikamera tidak
kelihatan jelek atau kucel. Tak kurang sedikitpun persiapan mereka. Ya begitulah,
sekarang mereka sangat antusias untuk syuting. Semantara tim produksi
mempersiapkan kelengkapan alat untuk syuting mereka mempersiapkan diri sambil
bercerita.
“Eh, dulu kan gue juga
pernah diminta untuk ikutan syuting juga, tapi waktu itu syutingnya di Bandung.
Sama, yang minta juga dari Humas Kampus” celetuk Didit.
“Seriusan lu dit? Trus lu
disuruh ngapain aja dit?” timpal Ardilla
“Lo sendirian aja dit?”,
Dini kemudian juga ikut menimpali
“Iya, gue sendiri aja, gak
ngapa-ngapain sih kaya syuting biasa aja waktu itu gw syuting untuk wirausaha
muda mandiri yang lagi kerjasama sama kampus. Terus gue dikasiiih uangg
dooong..!! hahahaaa J
” jawab Didit agak sedikit pamer J
“Huaaaa……” teriak mereka
antusias mendengarkan cerita Didit.
“Emang lu dikasih uang
berapa Dit?” Tanya salah seorang temannya.
“SATU JUTA, padahal
syutingnya gitu-gitu aja. Tapi lumayan waktu itu gue disuruh nunggu lamaa
banget, awalnya Ibu Heru yang ngajakin gue kebetulan dia yang mimpin produksi
itu nyuruh gue siap-siap pagii banget”. “Jam setengah enam kita udah standby ya! berangkat ke lokasi syuting” kata Didit
dengan menirukan ucapan si ibu itu. “Terus, udah nyampe disana, gue malah
nunggu lamaa banget, sampai kelar sholat Jumat, syutingnya baru mulai”. Lanjutnya.
“Ya gak apa-apa lah dit,
seengaknya terbayarkanlah, lu juga kan dibyar lumayan mahal waktu itu” celetuk
Ardilla.
“Iya sih, disuruh nunggu
seharian juga gue rela-rela aja tuh asal dikasih duit.. hahahahaaaa”,
celetuknya sambil tertawa bahak mencairkan suasana.
“Wah.. kalo gitu sekarang
kita dibayar berapa ya?” celetuk Syakir sambil liat-liatan dengan Dini dan
Ardilla, sepertinya mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Emang dasar ya,
saat itu Ardilla dan teman-temannya mulai berimajinasi tentang bayaran yang aka
mereka dapatkan, setidaknya cepek dapetlah, karena memperkirakan dan
membandingkan dengan bayaran Didit waktu itu. Setelah itu, mereka mulai
melanjutkan cerita mereka sampai pada akhirnya mereka dipanggil utuk siap take
video.
Saat itu, mereka hanya
disuruh berjalan disekitar batu nama sebuah fakultas dikampusnya itu, dan
mereka disuruh berkali-kali untuk melakukannya. Karena ada saja gangguan-nya.
Ada-ada saja, ada mobil yang lewatlah ada motor yang lewatlah, ada juga ibu-ibu
“pengemis” yang lawat sambil menggendong anaknya melewati mereka dan persis di
depan kamera.
“Sampe berapa kali nih
kita disuruh bolak balik ngiterin tempat ini??”
“Gak tau nih, satu kali
lagi kita disuruh jalan udah kaya tawaf di Mekkah aja nih kita”
“Hahahahahaaaa….” Suara
tertawa yang sangat menghibur hati mereka sore itu selalu menyelingi disetiap
percakapan mereka disore itu.
Akhirnya syuting berjalan
dengan lancar, namun tidak hanya sampai disitu mereka ditawarkan untuk menjadi
pengisi suara. Kebetulan Didit adalah MC yang sering tampil disetiap
acara-acara dikampus itu, Dini pernah menjadi penyiar radio distasiun radio
yang ada dikampus itu, dan Syakir seperti yang pernah diceritakan sebelumnya
dia memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sehingga tidak ada
salahnya mereka untuk mencoba casting
suara disore itu. Ardilla, merasa tidak mempunyai bakat dalam tarik suara,
karena merasa tidak memiliki pengalaman yang banyak dibidang itu, pernah
menjadi penyiar radio tetapi tidak bertahan cukup lama hanya hitungan bulan,
sehingga ia mengurungkan niat untuk ikutan casting.
Jadi, sore itu mereka
bertiga kecuali Ardilla bermaksud untuk ikut casting suara sebagai pembaca narasi di video profil kampus yang
sedang digarap tersebut. Dan setelah itu Ardilla kembali melanjutkan
rutinitasnya karena masih ada satu jadwal pratikum lagi disore itu.
****
Sorenya ketika sedang
pratikum, Ardilla menerima sms lagi
dari Bung Kus, ia bermaksud mau memberikan uang honor syuting mereka tadi
seperti yang pernah ia janjikan. Namun, Ardilla membaca sms tersebut ketika ia
sudah sampai dirumah. Sehingga mereka sepakat besok saja dan akan dititipkan
kepada teman Ardilla yang juga ikut syuting tersebut melalui ajakan si Bungkus itu.
Keesokan harinya Ardilla,
mendatangi kosan temannya untuk mengambil uang tersebut dan lalu membagikan
kepada tiga orang temannya.
“Noor, kemarin Bung Kus
nitip sesuatu ga sama kamu??” Tanya Ardilla kepada temannya itu.
“Ohya.. ada la, nih cepek
bagi empat” jawabnya..
Ardilla hanya terdiam saat
menerima uang itu.
“Whats?? Cepek bagi
empat?bukannya cepek seorang ya?” jawabnya menggerutu di dalam hatinya. “ya
ampun, ini sangat jauh dari perkiraan kita sebelumnya…ckckckck” sambil tertawa
kecil dalam hati dan agak sedikit kecewa karena perkirannya dan teman-temannya
jauh meleset sampai ia terpeleset menerima kenyataan tersebut.. hahaa J
Ya itulah, ternyata memang
kita tidak boleh melakukan sesuatu karena berharap imbalan yang lebih dibalik
itu, ikhlas saja dan luruskan niat seperti pada awalnya untuk membantu produksi
video promosi tersebut. Sehingga apapun hasilnya, apakah nantinya akan
mendapatkan imbalan atau tidak itu tidak akan menjadi masalah. Toh rejeki emang
gak kemana, pasti ada-ada saja.
Dan itulah.. setiap mausia
pernah khilaf dan terkadang sering dibutakan, meski hanya dari hal-hal kecil.
Kejadian ini cukup memberi hikmah tersendiri bagi Ardilla dan teman-temannya.
Meskipun kalo mereka mengingat-ingatnya lagi, kejadian ini membuat mereka geli
sendiri. J
Dan satu hal, yang
membuat Ardilla merasa semakin geli dan malu. Ketika bertemu dikampus,
teman-temannya selalu mengungkit kejadian itu “Hey.. ini nih, manajemen artis
guee”. Dan terkadang, teman-temannya yang lain yang mengetahui kejadian inipun
menertawakan sepenggal kisah konyol yang pernah terjadi pada mereka. Namun,
Ardilla selalu menanggapinya dengan senyum dan inilah bagian kisah kecil dimasa
kuliahnya yang akan selalu diingat sampai hari nanti. J